Kejar Target Produksi Minyak 1 Juta Barel pada 2030, Caranya?

Erlinda Septiawati, Jurnalis · Kamis 25 November 2021 16:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 25 320 2507406 kejar-target-produksi-minyak-1-juta-barel-pada-2030-caranya-rNs3ITW434.jpg Produksi Minyak 1 Juta Barel (Foto: Reuters)

JAKARTA - Pemerintah menargetkan produksi minyak satu juta barel oil per day (bopd) dan 12 ribu MMscfd gas pada 2030. Ada beberapa strategi yang disiapkan agar target tersebut tercapai.

Salah satunya aliansi strategis (strategic alliance) dinilai menjadi salah satu upaya untuk mewujudkan target produksi minyak 1 juta barel. Selain harus mengedepankan kerja sama yang saling menguntungkan, aliansi tersebut butuh dukungan pemerintah.

Hal ini terungkap dalam diskusi panel bertajuk Strategic Alliance Acceleration in Natural Resources Utilization to Increase Production in order to Achieve Long Term Strategic Plan to 1 Million BOPD & 12 MMSCFD.

Direktur Pengembangan dan Produksi Subholding Upstream Pertamina/PT Pertamina Hulu Energi Taufik Aditiyawarman mengatakan, salah satu faktor kesuksesan strategic alliance itu adalah melepas ego. Aliansi ataupun kemitraan merupakan salah satu upaya untuk mendapat hasil yang lebih baik, lebih besar, dan lebih cepat.

“Dengan adanya krisis seperti saat ini seharusnya semua harus terbuka. Strategic alliance itu harus matching antara technology needs dan technology yang tersedia di pasar. Pemilik WK harus terbuka, penyedia teknologi juga ada timbal balik, harus ready,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (25/11/2021).

 

Baca Juga: RI Bentuk Tim Khusus demi Capai Target Produksi Minyak 1 Juta Barel per Hari

Taufik mengatakan sejak Pertamina membuka program strategic alliance, saat ini sudah ada 29 perusahaan dengan membawa 46 teknologi yang tengah dicoba link and match untuk 27 lapangan.

“Teknologi provider dan teknologi needs belum match. Di beberapa lapangan ada teknologi yang kita aplikasikan untuk program ini. Harapannya memang diskusi dalam no cure no pay adalah bagaimana mencari titik temu economic scale,” katanya.

Menurut Taufik, Subholding Upstream akan menjalankan skema Kerja Sama Operasi (KSO) untuk mengelola Wilayah Kerja (WK) tidak terbatas pada WK yang dikelola PT Pertamina EP. Langkah ini dinilai bisa menjadi peluang untuk lebih agresif mencapai target produksi satu juta barel oil per day (bopd) dan 12 ribu MMscfd gas pada 2030.

Seiring dengan itu, Pertamina sedang memperbaiki skema KSO dan telah berkonsultasi dengan SKK Migas. “Saat ini KSO hanya untuk PEP, kami ingin itu dilakukan juga untuk WK non-PEP. Ini mungkin bisa buka peluang untuk lebih agresif menuju target satu juta barel, sehingga partisipan menuju kesana lebih banyak dan serempak,” kata Taufik.

Taufik menambahkan, integrasi vertikal bisa melalui akuisisi, baik divestasi sebagian maupun divestasi semua. Saat ini Pertamina sedang melakukan mapping terkait hal itu.

“Ada tiga hal, selain no cure no pay, lalu ada KSO, lalu ada merger yang kami dorong untuk mendukung visi internal Pertamina di masa depan,” ungkapnya.

Deputi Perencanaan SKK Migas Benny Lubiantara mengatakan visi produksi satu juta barel yang telah dibuat SKK Migas terus di-update. SKK Migas memahami banyak trigger, pandemi, energi transisi bukan isu baru, sudah lama namun memang ada percepatan.

“Ini tentu berdampak pada proyek-proyek kita. Asumsi-asumsi yang berubah ini tentunya kita update. Pandemi yang dalam sejarah migas belum terjadi ternyata terjadi saat ini, sekarang sudah recovery. Akan terjadi turun naik, itulah karakter oil price,” kata Benny.

Menurut Benny, produksi satu juta bopd adalah kebutuhan, bukan pilihan. Konsumsi dan produksi masih ada gap yang besar. Dan visi satu juta bopd hanya untuk mengurangi gap itu.

“Satu juta secara barang kita bisa confirm ada. Tapi masalah dari dulu adalah bagaimana memproduksikan minyak secara eknomis dan tepat waktu,” katanya.

Benny mengungkapkan tantangan industri hulu migas itu semakin besar. Tuntutan untuk perusahaan berkolaborasi dan mitigasi risiko menjadi tantangan ke depan. “Strategic alliance bisa menjadi part of solution,” katanya.

Konsep strategic alliance ini sangat luas. Tidak sukses karena merasa saat itu tidak butuh, sehingga harus ada win win. SKK Migas akan membantu meng-improve, salah satu bentuk dari strategic alliance dan model lain adalah untuk mendukung pencapaian target produksi satu juta barel.

“Apapun bentuk strategic alliance itu sangat mendukung target satu juta barel. Regulasi yang belum ada akan kami support. Kalau ada yang belum diatur, akan kita usulkan. Kami dukung strategic alliance yang sifatnya meningkatkan produksi,” ujarnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini