Harga Rumah hingga Apartemen Tetap Naik meski Pandemi Covid-19

Ahmad Hudayanto, Jurnalis · Jum'at 26 November 2021 14:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 26 470 2507876 harga-rumah-hingga-apartemen-tetap-naik-meski-pandemi-covid-19-z3oqKrikLs.jpg Harga Rumah Tetap Naik (Foto: Okezone)

JAKARTA - Harga rumah hingga apartemen tetap naik meski di tengah pandemi Covid-19. Berdasarkan jenis propertinya, rumah tapak dan apartemen masing-masing mengalami peningkatan sebesar 1,81 persen dan 0,84 persen dibanding kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter).

Adapun secara tahunan (year-on-year), harga properti secara keseluruhan mengalami kenaikan sebesar 3,24 persen, dimana harga rumah tapak naik 4,39 persen, sementara harga apartemen turun 2,57 persen. Demikian terungkap dalam data Rumah.com Indonesia Property Market Index (RIPMI) kuartal IV-2021

Country Manager Rumah.com Marine Novita mengatakan, dalam data tersebut menunjukkan adanya kenaikan harga properti pada semua tipe properti.

Baca Juga: Harga Rumah Naik Terbatas, Penjualan Lesu di Kuartal III

Insentif pembelian baru dari pemerintah juga turut mendorong konsumen untuk mencari hunian idaman mereka sesegera mungkin. Situasi yang semakin membaik ini pun membuat pengembang merasa lebih optimistis menghadapi prospek industri properti ke depan.

"Setelah pengembang sempat mengurangi suplai demi menghabiskan stok hunian yang ada, kini pembangunan rumah tapak dan apartemen kembali ditingkatkan," kata dia dalam risetnya, Jakarta, Jumat (26/11/2021).

Perlu diketahui, kebijakan pemerintah yang menerapkan PPKM Darurat pada awal kuartal III-2021 sempat menyebabkan perlambatan ekonomi, namun industri properti di tanah air masih terus melaju bergerak seiring dengan pemulihan perekonomian nasional secara keseluruhan.

Menurutnya, konsumen juga tidak lagi merasakan ketakutan dan menghindari area pusat kota yang cenderung lebih padat. Pasar properti di wilayah metropolitan tampaknya tengah mencari keseimbangan baru, menyesuaikan preferensi konsumen yang kembali berubah setelah pandemi mulai terasa mereda.

Pada kuartal ketiga 2021 mencatat indeks harga properti hunian mengalami kenaikan sebesar 1,80 persen secara kuartalan. Pertumbuhan kenaikan harga properti pada kuartal ketiga 2021 sedikit mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan kenaikan pada kuartal sebelumnya kuartal II 2021 yaitu sebesar 2,24 persen secara kuartalan.

Di sisi lain, melambatnya kenaikan harga properti hunian ini sepertinya disebabkan oleh melimpahnya suplai pada kuartal ketiga 2021 dimana indeks suplai mengalami kenaikan sebesar 9,58 persen secara kuartalan. Sebelumnya, indeks suplai properti sempat mengalami penurunan sebesar 2,13 persen secara kuartalan pada kuartal II 2021.

Sementara jika dilihat dari jenis propertinya, indeks suplai rumah tapak meningkat sebesar 9,44 persen secara kuartalan sedangkan apartemen naik sebesar 7,31 persen secara kuartalan. Pertumbuhan harga dan suplai ini tampaknya didorong oleh kondisi perekonomian nasional dan insentif serta kebijakan pemerintah terhadap sektor properti yang terus berjalan.

Jika melihat data hasil Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia, secara kuartalan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada Kuartal Ketiga 2021 tumbuh terbatas. IHPR pada kuartal III 2021 tercatat tumbuh sebesar 0,34 persen (quarter-to-quarter), lebih rendah dibandingkan 0,45 persen (quarter-to-quarter) pada kuartal II 2021.

“Tren kenaikan harga properti pada kuartal ketiga 2021 yang tumbuh secara terbatas menurut hasil Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia tersebut sejalan dengan data dari Rumah.com Indonesia Property Market Index yang juga menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan kenaikan harga properti jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya,” jelas Marine.

Pemerintah pun juga terus mendorong industri properti di tanah air dengan serangkaian kebijakan dan stimulus. Insentif pembebasan Pajak Penambahan Nilai (PPN) properti diperpanjang hingga Desember 2021, diikuti dengan perpanjangan kebijakan uang muka alias down payment (DP) nol persen diteruskan sampai Desember 2022.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuan BI7DRR sebesar 3,5 persen pada November 2021. Di sisi lain, sejumlah pemerintah daerah memberlakukan insentif tambahan berupa diskon Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Sehingga secara umum pasar properti masih berpihak kepada konsumen.

"Pasar properti masih berada dalam kondisi buyer’s market. Kendati tren harga properti mulai meningkat, bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sendiri masih berada di angka yang paling rendah dalam lima tahun terakhir. Pemerintah juga masih memberikan cukup banyak insentif dan stimulus untuk membantu masyarakat dalam meringankan biaya transaksi pembelian properti," katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini