Harga Minyak Dunia Turun 11%

Antara, Jurnalis · Sabtu 27 November 2021 07:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 27 320 2508184 harga-minyak-dunia-turun-11-pmOsEU82cb.jpeg Harga minyak dunia turun (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Harga minyak dunia anjlok USD10 per barel pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Harga minyak dunia mengalami penurunan satu hari terbesar sejak April 2020.

Harga minyak dunia turun karena varian baru virus corona menakuti investor dan menambah kekhawatiran bahwa surplus pasokan dapat membengkak pada kuartal pertama.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Tipis, WTI Dibanderol USD78,3/Barel

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari tergelincir USD9,50 atau 11,6%, menjadi menetap di USD72,72 per barel dan mencatat penurunan mingguan lebih dari 8,0%.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Januari anjlok USD10,24 atau 13,1% menjadi ditutup di USD68,15 per barel dalam perdagangan volume tinggi setelah liburan Thanksgiving, Kamis (25/11/2021). Untuk minggu ini, WTI turun lebih dari 10,4%.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Menanti Respons OPEC

Kedua kontrak acuan jatuh ke minggu kelima kerugian dan penurunan tertajam mereka secara absolut sejak April 2020, ketika WTI berubah negatif untuk pertama kalinya di tengah kelebihan pasokan yang disebabkan oleh virus corona.

Harga minyak turun bersama pasar ekuitas global di tengah kekhawatiran varian baru virus corona yang bisa meredam pertumbuhan ekonomi dan permintaan bahan bakar.

Organisasi Kesehatan Dunia telah menetapkan varian baru, yang diberi nama Omicron, sebagai "perhatian," menurut menteri kesehatan Afrika Selatan.

Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Guatemala, dan negara-negara Eropa termasuk di antara mereka yang membatasi perjalanan dari Afrika Selatan, tempat varian itu terdeteksi.

"Pasar mempertimbangkan situasi skenario terburuk di mana varian ini menyebabkan kehancuran permintaan besar-besaran," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho.

Berita tentang varian tersebut menyebabkan keributan di pasar yang sebelumnya terjebak antara negara-negara produsen dan konsumen.

"Ketakutan terbesar adalah bahwa itu akan resisten terhadap vaksin dan menjadi kemunduran besar bagi negara-negara yang telah menuai manfaat dari peluncuran mereka," kata Craig Erlam, analis pasar senior di OANDA.

OPEC+ juga memantau perkembangan seputar varian tersebut, sumber mengatakan pada Jumat (26/11/2021), dengan beberapa mengungkapkan kekhawatiran bahwa hal itu dapat memperburuk prospek pasar minyak kurang dari seminggu sebelum pertemuan untuk menetapkan kebijakan.

Para ilmuwan sejauh ini hanya mendeteksi varian Omicron dalam jumlah yang relatif kecil, terutama di Afrika Selatan tetapi juga di Botswana, Hong Kong dan Israel, namun mereka khawatir dengan jumlah mutasi yang tinggi yang dapat membuatnya kebal vaksin dan lebih mudah menular.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini