Presidensi G20 Indonesia, Sri Mulyani: Akan Ada Kebijakan Extra Ordinary

Michelle Natalia, Jurnalis · Sabtu 27 November 2021 18:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 27 320 2508372 presidensi-g20-indonesia-sri-mulyani-akan-ada-kebijakan-extra-ordinary-2qmnoVmpzg.jpg Sri mulyani ungkap pertemuan G20 akan membahas kebijakan pemulihan ekonomi dunia (Foto: Instagram)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan KTT G20 akan menjadi momentum pemulihan ekonomi dunia. Pembahasan dalam forum G20 akan berkaitan dengan tantangan mengenai desain pemulihan ekonomi bersama.

Baca Juga: RI Manfaatkan KTT G20 di 2022 Tingkatkan Diplomasi Ekonomi

“Terjadi ketidakmerataan akibat akses dari vaksin dan kemudian munculnya komplikasi seperti disrupsi dari sisi supply side dan juga inflasi serta kenaikan harga komoditas. Ini tentu menjadi tantangan yang besar untuk mendesain suatu pemulihan ekonomi bersama karena sebagian negara akan mulai melakukan aksi exit policy dari policy-policy yang sifatnya extra ordinary, yaitu dalam hal ini seperti kebijakan moneter dan fiskalnya,” jelasnya dalam konferensi pers virtual, dikutip Sabtu (27/11/2021).

Baca Juga: Transisi Energi, Menko Airlangga Dorong Perbankan Biayai Proyek Ramah Lingkungan

Presidensi G20 Indonesia, menurut Sri merupakan sebuah tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab untuk menggalang kolaborasi global untuk pemulihan ekonomi secara bersama dan lebih kuat.

“Tentu membutuhkan sebuah pertemuan, di mana persiapan maupun dalam hal ini diskusi diantara para pembuat keputusan di negara-negara G20, terutama pada level leaders, yaitu para pimpinan negara maupun di level menteri keuangan dan bank sentral yang merupakan suatu pertemuan untuk membahas tantangan pemulihan ekonomi,” tuturnya.

Beberapa isu yang akan menguat sebagai kelanjutan maupun perkembangan terbaru pasca Presidensi Italia sebelumnya, menurut Sri antara lain bagaimana pandemi Covid-19 menimbulkan dampak yang cukup dalam dan permanen terhadap perekonomian.

“Kita akan membahas mengenai masalah digital currency, global taxation agreement, climate change, dan upaya mencapai kemajuan financing bagi negara-negara berkembang dan emerging,” jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini