Data Pekerja AS Tak Mampu Angkat Wall Street

Antara, Jurnalis · Sabtu 04 Desember 2021 07:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 04 278 2511707 data-pekerja-as-tak-mampu-angkat-wall-street-XAmVokGy7s.jpg Wall Street (Foto: Okezone.com)

NEW YORK - Bursa saham AS, Wall Street berakhir melemah pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB). Nasdaq menjadi indeks dengan penurunan terbesar karena investor bertaruh bahwa laporan pekerjaan yang kuat tidak akan memperlambat penarikan dukungan Federal Reserve. Selain itu, ketidakpastian karena varian virus corona Omicron menjadi sentimen negatif pasar saham.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 59,71 poin atau 0,17% menjadi 34.580,08 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 38,67 poin atau 0,84% menjadi 4.538,43 poin. Indeks Komposit Nasdaq anjlok 295,85 poin atau 1,92% menjadi 15.085,47 poin.

Indeks S&P, Dow dan Nasdaq semuanya mencatat penurunan selama seminggu di mana mereka berayun liar dari hari ke hari karena investor bereaksi terhadap berita Omicron dan komentar Powell.

Baca Juga: Wall Street Menguat, Dow Jones Naik 1,83% Didukung Saham Boeing

Untuk minggu ini, S&P jatuh 1,2 persen merupakan penurunan mingguan kedua berturut-turut, sementara Nasdaq anjlok 2,62 persen, juga kerugian minggu kedua berturut-turut. Sementara indeks Dow melemah 0,92 persen dalam penurunan mingguan keempat berturut-turut.

Setelah dibuka lebih tinggi, Wall Street menghabiskan sisa sesi dalam kelesuan dan indeks volatilitas yang meningkat menyoroti kecemasan investor.

Laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan pertumbuhan pekerjaan nonpertanian naik lebih rendah dari yang diperkirakan pada November, tingkat pengangguran turun menjadi 4,2 persen, terendah sejak Februari 2020, dan upah meningkat. Secara terpisah, ukuran aktivitas industri jasa AS mencapai rekor tertinggi pada November.

Baca Juga: Wall Street Anjlok Dibayangi Varian Baru Virus Covid-19

Kedua set data itu tampaknya mempengaruhi ekspektasi investor untuk langkah Fed selanjutnya menuju pengetatan kebijakannya. Ketua Fed Jerome Powell mengatakan minggu ini bahwa bank sentral akan mempertimbangkan penghentian lebih cepat program pembelian obligasi, mendorong spekulasi bahwa kenaikan suku bunga juga akan dimajukan.

"Tidak cukup dalam laporan pekerjaan untuk menghalangi The Fed mempercepat tapering dan (itu) membuka pintu untuk kenaikan suku bunga yang lebih cepat daripada yang mungkin diantisipasi pasar," kata Kepala Strategi Interactive Brokers, Steve Sosnick, dikutip dari Antara, Sabtu (4/12/2021).

Selain itu, varian Omicron yang menyebar lebih cepat daripada Delta, menjadi kekhawatiran investor. Jumlah negara yang melaporkan kasus Omicron terus meningkat pada Jumat (3/12/2021) tetapi masih ada sedikit kejelasan tentang tingkat keparahan penyakit atau tingkat perlindungan yang diberikan oleh vaksin Covid-19 yang ada.

Dalam indikasi yang jelas dari kegelisahan investor, pengukur ketakutan Wall Street, indeks Volatilitas Pasar CBOE, naik di atas 35, dalam perdagangan sore, untuk pertama kalinya sejak akhir Januari. Namun, indeks memangkas beberapa kenaikannya menjadi ditutup naik 9,7 poin pada 30,67.

Sementara itu, sektor utama S&P 500 yang berkinerja lebih baik adalah sektor konsumen yang defensif, ditutup naik 1,4 %, serta sektor utilitas bertambah 1,0%, diikuti oleh perawatan kesehatan naik 0,25 persen.

Pada akhir sesi, sektor consumer discretionary, jatuh 1,8%, menjadi pencetak kerugian sektoral terbesar, diikuti oleh sektor teknologi yang terpangkas 1,65%..

Penurunan termasuk saham-saham kelas berat seperti Tesla yang anjlok 6,0%, Nvidia merosot 4,0% serta Apple Inc dan Microsoft kehilangan lebih dari 1,0%.

"Sulit untuk membantah bahwa saham-saham dengan valuasi sebesar itu bersifat defensif," kata Sosnick.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini