Tak Disangka! Ini Penyebab AP I Punya Utang hingga Rp32,7 Triliun

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Rabu 08 Desember 2021 19:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 08 320 2514054 tak-disangka-ini-penyebab-ap-i-punya-utang-hingga-rp32-7-triliun-sKYNX8Fwas.jpg Utang Angkasa Pura I (Foto: Okezone)

JAKARTA - Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero), Faik Fahmi memberikan penjelasan terkait utang perseroan mencapai Rp 32,7 triliun. Salah satu penyebabnya yakni karena pendanaan 10 bandar udara (bandara) di bawa pengelolaan perusahaan.

Pendanaan 10 bandara tersebut tidak diperoleh manajemen melalui penyertaan modal negara (PMN) atau suntikan pemerintah dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Namun, melalui kredit sindikasi perbankan dan obligasi.

"Jadi, pengembangan kita sama sekali tidak melalui bantuan pemerintah, tapi benar-benar melalui internal dan eksternal melalui sindikasi perbankan dan obligasi," ujar Faik dalam konferensi pers, Rabu (8/12/2021).

Baca Juga: Utang-Utang BUMN Mulai Bengkak, AP I Terlilit Rp35 Triliun

Adapun total keseluruhan bandara yang dikelola AP I mencapai 15 bandara yang terdiri dari Bandara I Gusti Ngurah Rai - Denpasar, Bandara Juanda - Surabaya, Bandara Sultan Hasanuddin - Makassar, Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan - Balikpapan.

Lalu, Bandara Frans Kaisiepo - Biak, Bandara Sam Ratulangi - Manado, Bandara Syamsudin Noor - Banjarmasin, Bandara Jenderal Ahmad Yani - Semarang, Bandara Adisutjipto - Yogyakarta, Bandara Adi Soemarmo - Surakarta.

Kemudian, Bandara Internasional Lombok - Lombok Tengah, Bandara Pattimura - Ambon, Bandara El Tari - Kupang, Bandara Internasional Yogyakarta - Kulon Progo, dan Bandara Sentani - Jayapura.

Baca Juga: Terungkap! Garuda Indonesia Punya Utang Rp290 Miliar ke AP I

Untuk 10 bandara yang diperbaiki, kata Faik, mengalami kekurangan kapasitas (lack of capacity). Lantaran, realisasi pergerakan penumpang sejak 2019 mencapai 90 juta orang, sementara kapasitas bandara tidak seimbang dengan jumlah tersebut.

Jika tidak diperbaiki, lanjut Faik, akan menimbulkan persoalan baru yang terkait dengan pelayanan, safety, security, dan lain sebagainnya.

"Sebagai contoh, di tahun 2017, kapasitas bandara Angkasa Pura hanya untuk 71 juta penumpang per tahun. Namun, realisasi penumpangnya sudah 90 juta per tahun. Kemudian meningkat lagi di tahun 2019 menjadi 90 juta penumpang per tahun. Jadi bisa dibayangkan dengan realisasi penumpang yang jauh lebih tinggi, tentu muncul persoalan yang terkait dengan masalah pelayanan, safety, security dan lain sebagainnya," ungkap dia.

Hingga November 2021, AP I mencatatkan utang sebesar Rp 32,7 triliun. Jumlah itu berasal dari pinjaman kreditur dan investor hingga kewajiban perseroan kepada karyawan dan supplier.

Adapun jumlah pinjaman perusahaan kepada kreditur dan investor mencapai Rp 28 triliun. Sementara, kewajiban yang harus dibayarkan kepada karyawan dan supplier senilai Rp 4,7 triliun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini