Harga Minyak Dunia Melonjak Imbas Penurunan Stok AS

Antara, Jurnalis · Kamis 09 Desember 2021 06:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 09 320 2514189 harga-minyak-dunia-melonjak-imbas-penurunan-stok-as-qRbgOBouTF.jpg Harga minyak dunia naik (Foto: Reuters)

JAKARTA - Harga minyak dunia sedikit lebih tinggi pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Harga minyak naik karena investor tidak lagi memperkirakan varian virus corona Omicron akan menggagalkan pertumbuhan ekonomi global, dan data menunjukkan penurunan dalam persediaan minyak mentah AS.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Februari, terangkat 38 sen atau 0,5% menjadi menetap di USD75,82 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Januari bertambah 31 sen atau 0,4%, menjadi berakhir di USD72,36 per barel.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik 3%, Kekhawatiran Varian Omicron Mereda

Patokan global Brent telah rebound sekitar 10% sejak 1 Desember dengan ekspektasi bahwa Omicron hanya akan berdampak terbatas pada permintaan minyak, setelah jatuh 16% sejak 25 November. Studi awal menunjukkan dua suntikan Pfizer-BioNTech mungkin hanya melindungi sebagian dari Omicron, tetapi dosis ketiga dapat meningkatkan perlindungan itu.

"Beberapa kekhawatiran permintaan minyak terkait Omicron mungkin terlalu pesimistis, dan karenanya dengan beberapa berita positif terkait dengan Omicron yang dirilis dalam beberapa hari terakhir, harga minyak pulih," kata Giovanni Staunovo, analis komoditas di UBS.

Baca Juga: Harga Minyak Meroket 5% Sikapi Kebijakan Arab Saudi

Pasar memiliki reaksi yang diredam terhadap angka persediaan mingguan AS. Stok minyak mentah turun 240.000 barel dan stok bensin dan sulingan meningkat karena penyulingan meningkatkan produksi. Namun, pada saat yang sama, produk AS yang dipasok oleh kilang, yang mewakili permintaan, mencapai 20,9 juta barel per hari selama empat minggu terakhir - melebihi tingkat penggunaan konsumen sebelum pandemi.

Pasar memperkirakan bahwa pasokan akan melebihi permintaan pada awal 2022, karena meningkatnya produksi AS dan penambahan pasokan yang berkelanjutan dari Timur Tengah.

Pada akhirnya, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, memilih mempertahankan jadwalnya untuk meningkatkan pasokan sebesar 400.000 barel per hari setiap bulan - meskipun ada kekhawatiran bahwa varian baru akan melemahkan permintaan.

Gedung Putih dan Teheran telah memulai kembali pembicaraan mengenai program nuklir Iran, tetapi kesepakatan untuk menghidupkan kembali kesepakatan 2015 yang membatasi pengembangan nuklir Iran masih jauh, dan para pejabat Barat telah menyuarakan kekecewaan atas tuntutan Iran yang meluas.

Ketegangan antara kekuatan Barat dan Rusia atas Ukraina juga tetap tinggi setelah Presiden AS Joe Biden memperingatkan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (7/12/2021) bahwa Barat akan memberlakukan "tindakan ekonomi dan lainnya yang kuat" pada Rusia jika menyerang Ukraina, sementara Putin menuntut jaminan bahwa NATO tidak akan melakukan perluasan lebih jauh ke arah timur.

"Semua titik panas ini memberi tahu pasar bahwa kami telah menambahkan risiko dan ketika kami melakukannya, harga-harga bergerak naik," kata Tim Snyder, ekonom di Matador Economics di Dallas.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini