Gubernur BI Ungkap Negara Berkembang Masih Sulit Dapat Vaksin, Kok Bisa?

Rina Anggraeni, Jurnalis · Kamis 09 Desember 2021 17:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 09 320 2514574 gubernur-bi-ungkap-negara-berkembang-masih-sulit-dapat-vaksin-kok-bisa-uPIhIb7AbY.jpg Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (Foto: Okezone)

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa, negara berkembang saat ini masih sulit mendapatkan akses vaksin Covid-19.

Kemudian kata dia dalam Presidensi G20 mengangkat tema mengenai perbaikan ekonomi dalam menghadapi pandemi Covid-19. Salah satunya adalah, mengenai distribusi vaksin.

"Tentu saja isu yang dibahas mengenai recover together ialah vaksinasi distribusi bisa merata, banyak negara berkembang belum mampu. Ini penting bagaimana negeara berkembang percepat vaksinasi. Bagaimana exit policy. Ini penting. Negara maju recover tapi negara berkembang masih berjuang dan ini harus dibahas," katanya di Nusa Dua, Bali, Kamis (9/11/2021).

Baca Juga: Gubernur BI Rancang Sistem Pembayaran Digital Antar Negara

Dia menjelaskan, normalisasi kebijakan baik fiskal dan moneter juga perlu dilamikan . Diantaranya adalah, normalisasi dsri kesehatan moneter makro fiskal dan keuangan.

"Tentu ada sejumlah isu berkaitan bank central. Bagaimana normalisais kebijakan moneter. Bagi negara maju yang akan normalisasi kebijakan moneter perlu kebijakan yang jelas. Berkaitan juga ditunjukkan dengan baik," katanya.

Baca Juga: Jadwal Operasional BI saat Natal dan Tahun Baru, Cek di Sini

Seluruh dunia saat ini memang masih menghadapi pandemi Covid-19 yang terjadi hampir dua tahun. Untuk pemulihan ekonomi, berbagai negara harus memastikan kesehatan masyarakat, berjalan bersama untuk menuju pemulihan dan menjadikan isu perubahan iklim sebagai salah satu prioritas bersama demi menyelamatkan bumi.

"Ada banyak hal yang harus kita lakukan bersama, untuk pulih bersama. Ini komitmen Indonesia melalui Presidensi G20 bagaimana kita bisa Recover Together, Recover Stronger," tandasnya.

Pada saat yang sama, pangsa simpanan dengan tier nominal < Rp 100 juta menurun dari 14,5% menjadi 13,0%.

“Secara keseluruhan, kecenderungan menabung yang semakin tinggi oleh si kaya ini akan membuat konsumsi agregat menurun sehingga melemahkan pertumbuhan dan pemulihan ekonomi (paradox of thrift),” tutup Askar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini