Share

Peringatan Erick Thohir ke BUMN Pergulaan, Apa Itu?

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Minggu 16 Januari 2022 16:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 16 320 2532858 peringatan-erick-thohir-ke-bumn-pergulaan-apa-itu-1WcligRYIX.jpg Menteri BUMN Erick Thohir. (Foto: Okezone.com/BUMN)

JAKARTA - National Sugar Summit (NSS) merumuskan keputusan nyata perihal kebijakan industri gula nasional ke depannya. Upaya itu dinilai sebagai langkah transformasi ekosistem pangan.

Menteri BUMN Erick Thohir menekan, BUMN di sektor pergulaan harus menjadi motor penggerak bagi industri gula nasional dengan berkolaborasi dengan pihak terkait.

“Saya berharap BUMN yang bergerak di industri gula harus terus di-upgrade dan mengedepankan kolaborasi dan menjadi motor penggerak di industri gula nasional," ujar Erick, Minggu (16/1/2022).

Baca Juga: Stok Gula Pasir Menipis, Kemendag: Jangan Khawatir

Pemerintah mencatat kesenjangan antara kebutuhan dan produksi gula masih cukup lebar, walaupun pemerintah telah berupaya mendorong pelaku usaha gula untuk meningkatkan produksi.

Upaya untuk meningkatkan produksi gula terus dilakukan melalui berbagai pendekatan, baik sisi teknis melalui peningkatan produktivitas, ekstensifikasi lahan, perubahan pola kemitraan antara industri dengan petani tebu, restrukturisasi bisnis korporasi maupun penguatan riset dan inovasi.

Dalam merespon situasi pergulaan nasional tersebut PT RNI (Persero) atau ID Food bersama Asosiasi Gula Indonesia (AGI) dan Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) merespon melalui hasil rumusan National Sugar Summit yang terselenggara beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Impor Gula Rafinasi 2022 Sebesar 3,4 Juta Ton, DPR: Sangat Membebani Petani

Direktur Utama ID Foof sekaligus Ketua Dewan Pengarah AGI, Arief Prasetyo Adi mengatakan terdapat beberapa poin dalam rumusan itu diantaranya, resiliensi sektor pangan di era pandemi mampu memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian nasional, dengan pertumbuhan sebesar 14%, dimana, subsektor perkebunan menyumbang 26,5% terhadap PDB Pertanian secara keseluruhan

“Di bidang pergulaan, upaya peningkatan perlu terus ditingkatkan melalui perluasan lahan, revitalisasi sarana produksi, kemitraan dan sinergi BUMN. Selain itu, pembentukan Holding Pangan diharapkan dapat terus bersinergi dengan pemangku kepentingan dalam menciptakan ekosistem pangan nasional, termasuk memberdayakan BUMDES untuk meningkatkan nilai tukar petani Tebu,” jelas Arief.

Rumusan lainnya sebagai upaya transformasi industri gula nasional adalah melalui penyediaan lahan tebu untuk pengembangan areal, disamping melalui kemitraan dengan petani tebu, juga dimungkinkan untuk memanfaatkan lahan Area Penggunaan Lain (APL), lahan HGU, lahan hutan Produksi/Perhutani/Inhutani dan lahan adat/ulayat.

Menurut Arief, para pelaku industri gula menilai bahwa isu Industri gula nasional yang masih dihadapi antara lain produktivitas yang rendah di kisaran 72 ton per ha, rendemen tebu rendah di kisaran

7,30%, tidak tercapainya optimalisasi kapasitas giling khususnya PG-PG di Jawa karena pasokan tebu yang kurang, hingga keterbatasan kemampuan pendanaan dan inefisiensi produksi.

Untuk itu, lanjut Arief, para pelaku industri gula baik asosiasi maupun BUMN yang bergerak di industri gula perlu melakukan transformasi untuk menciptakan ekosistem gula yang terintegrasi melalui sinergi industri gula dalam mengoptimalisasi lahan tebu, peningkatan peran petani tebu rakyat melalui perbaikan hubungan kemitraan.

Lalu, penerapan inovasi dan teknologi future practices berbasis teknologi digital sepanjang rantai nilai Industri gula, serta dukungan kemampuan pendanaan bagi Industri gula, antara lain dengan mengimplementasikan PP No. 24/2015 tentang penghimpunan dana perkebunan.

Isu lainnya juga terkait dukungan kelancaran penyediaan pupuk, benih tebu unggul, dan alsintan, peningkatan diversifikasi dan hilirisasi produk gula dan turunannya.

Dalam penguatan ketahanan pangan, lanjut Arif, khususnya pada industri gula di Indonesia, hasil rumusan para pelaku industri gula perlu dukungan dari lembaga riset dalam pengembangan varietas unggul sesuai tipologi lahan yang memiliki potensi produktivitas, rendemen yang tinggi, program sosialisasi dan pemberian insentif kepada pabrik gula dan petani untuk melakukan perubahan varietas sesuai rekomendasi hasil uji.

Selain dukungan Lembaga riset, perlu dikembangkan aplikasi sistem berbasis teknologi digital untuk memperkirakan produksi dan permintaan gula, produksi tanaman tebu dengan dukungan citra satelit dan citra drone di setiap tahap pertumbuhan tanaman di seluruh wilayah Indonesia dengan mempertimbangkan pengaruh cuaca dan iklim.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini