Share

Periset BRIN Bisa Kantongi Ratusan Juta dari Royalti Lisensi Produk

Sevilla Nouval Evanda, Jurnalis · Selasa 18 Januari 2022 06:44 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 18 455 2533706 periset-brin-bisa-kantongi-ratusan-juta-dari-royalti-lisensi-produk-rJlEEaNJkR.jpg Periset BRIN bisa kantongi royalti ratusan juta (Foto: Okezone)

JAKARTA – Periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bisa menerima royalti hingga ratusan juta rupiah. Royalti diperoleh dari lisensi produk riset BRIN yang dibeli oleh industri.

Humas BRIN melalui Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik (OR IPT) mengemban amanah untuk melaksanakan proram penelitian dan pengembangan (litbang), yang tertuang dalam 4 Rumah Program (RP), salah satunya RP alat dan deteksi kesehatan.

Baca Juga: BRIN Luncurkan Kit Pendeteksi Covid-19, Lebih Murah dari PCR

“Banyak industri yang membeli lisensi produk kita, dan pendapatan royalti atas lisensi ini ke negara di tahun 2021 kemarin mencapai 2,75 miliar. Para periset, berdasarkan peraturan Kementerian Keuangan berhak mendapatkan royalti dari lisensi yang didapat negara dari hasil penelitian tersebut. Bahkan, tim kami ada yang mendapatkan imbal hasil sampai 400 juta dalam 1 tahun,” ungkap Kepala OR IPT BRIN, Agus Haryono dikutip Selasa (18/1/2022).

RP, jelas Agus, merupakan model pelaksanaan kegiatan litbang yang dilaksanakan di BRIN, yang mana RP ini dapat dikerjakan oleh semua periset BRIN dengan mengusulkan proposal untuk bersama-sama melakukan kegiatan penelitan.

Baca Juga: Kepala BRIN: Tak Harus Jadi Ilmuwan untuk Jadi Periset, Siapapun Boleh Punya Paten

Dia mengatakan, pada awal tahun 2020, saat pandemi Covid-19 merebak, kebijakan riset difokuskan pada penanganan Covid-19. Kemudian di tahun 2021 berlanjut menjadi satu kegiatan besar alat dan deteksi kesehatan, dan berlanjut hingga saat ini.

Hasilnya, lanjut Agus, banyak industri yang membeli lisensi produk BRIN yang berimbas pada pendapatan negara, serta royalti hingga ratusan juta yang diperoleh peneliti.

Menurutnya, hal ini membuktikan bahwa menjadi periset tidak perlu takut miskin jika bisa menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Ini merupakan bukti bahwa periset tidak perlu takut miskin karena dia bisa melakukan kegiatan penelitian yang menghasilkan suatu produk yang dimanfaatkan oleh masyarakat, dibeli lisensinya oleh industri, dan setiap produk yang dijual ada royaltinya yang masuk ke kas negara melalui PNBP,” tambahnya.
Teranyar, tim peneliti BRIN berhasil mengembangkan RT-LAMP, metode alternatif pengujian virus Covid-19 tanpa alat PCR, termasuk varian Omicron.
Dia mengatakan, BRIN sejak awal telah menggandeng pihak industri dalam mengembangkan produk ini. Dirinya berharap, pengembangan produk RT-LAMP dapat terus dilanjutkan dengan deteksi lebih canggih dan lebih nyaman digunakan masyarakat.
“Kalau sekarang RT-LAMP masih ambil sampel melalui swab hidung, masyarakat mungkin masih belum nyaman. Nanti kami akan membuat varian produk lain yang lebih nyaman, tapi kualitasnya tetap setara dengan RT-PCR,dan ini merupakan tantangan terhadap kebutuhan di masyarakat  yang memang menantikan produk-produk seperti ini,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini