Share

Heboh! Rumah di Karimun Jawa Dijual ke WNA Rp800 Juta, Kok Bisa?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Selasa 18 Januari 2022 10:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 18 470 2533790 heboh-rumah-di-karimun-jawa-dijual-ke-wna-rp800-juta-kok-bisa-Fc2iUvlxVw.jpg Heboh rumah di Pulau Karimun dijual ke WNA (Foto: Twitter)

JAKARTA - Heboh iklan penjualan rumah di Pulau Karimun Jawa yang dilakukan oleh sebuah perusahaan bernama PT Levels Hotels Indonesia atau "The Start Up Island". Rumah tersebut ditawarkan kepada warga negara asing (WNA) dan memicu polemik di media sosial.

Dilansir dari BBC Indonesia, Selasa (18/1/2022), harga rumah di The Start Up Island dibandrol sebesar €49.500 atau Rp800 juta. Sejauh ini, proyek The Start Up Island --yang diinisiasi oleh seorang warga negara Spanyol-- mengklaim telah menjual 170 rumah dalam kurun delapan bulan.

Baca Juga: Pangeran Harry dan Meghan Markle Jual Rumah Rp211 Miliar, Alasannya Mengejutkan

Adapun permukiman tersebut masih dalam tahap pembangunan di atas lahan seluas 35.000 meter persegi, di pinggir pantai di Pulau Karimun Jawa.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten JeparaAry Bachtiar mengatakan PT LHI memiliki hak guna bangunan atas tanah tersebut.

"Dan tidak ada rencana pengalihan hak dari PT tersebut ke pembeli, karena bangunan hotel atau resort tersebut tidak dijual, tetapi disewakan secara jangka pendek atau jangka panjang," kata Ary.

Baca Juga: 5 Tips Membuat Dapur Bergaya Modern, Jangan Lupa Hitung Anggaran

Pembicaraan terkait hal ini diunggah oleh Lorraine Riva melalui akun Twitter-nya, @yoyen, pada Jumat lalu. Lewat cuitan itu, Lorraine mengatakan iklan berbahasa Inggris tentang penjualan rumah itu muncul pada lini masa akun Facebook miliknya.

Iklan itu menawarkan target pasarnya membeli residensial premium di "pulau surgawi di Indonesia", yang dilengkapi dengan akses langsung ke pantai, beach club, gym, dan sejumlah fasilitas mewah lainnya.

Sejumlah pengguna Twitter mengkhawatirkan kehadiran residensial mewah itu akan memicu "gentrifikasi" dan membuat warga lokal "menjadi tamu di tanahnya sendiri".

Di balik iming-iming kehidupan di pulau tropis nan eksotis seperti yang dijanjikan oleh The Start Up Island kepada target pasarnya di Eropa, terdapat warga lokal yang khawatir bahwa suatu waktu mereka akan terpinggirkan dengan kehadiran residensial mewah itu.

Salah satu warga Desa Kemujan, Karimun Jawa, Bambang Zakaria, 54, mengatakan kehadiran orang asing yang menetap dengan kemewahan dan dunia mereka sendiri akan memunculkan sebuah lingkup sosial baru yang tidak mungkin bisa menyatu dengan warga lokal.

Menurut Bambang yang sehari-hari melaut sembari mengurus penginapan milik keluarganya, situasi yang tercipta dengan residensial mewah akan berbeda dengan kehadiran wisatawan.

"Selama ini banyak wisatawan Eropa ke sini untuk berwisata, kami terpercik (secara ekonomi). Tapi ketika itu menjadi hunian, budaya kami, adat istiadat kami pun lama-lama akan tergeser," kata Zakaria kepada BBC Indonesia.

"Mereka kan punya budaya sendiri, nanti akan muncul dua budaya. Mereka nggak akan bisa kami ajak kumpulan, nggak bisa ajak musyawarah," lanjut dia.

Kekhawatiran itu semakin menguat karena banyak tanah di wilayah Karimun Jawa kini telah dimiliki oleh orang-orang luar, yang bukan warga lokal. Menurut Zakaria, bukan tidak mungkin ke depannya akan muncul residensial mewah serupa seperti The Start Up Island.

Pada titik itu, dia meyakini warga lokal tidak akan mampu mengimbanginya.

"Lama-lama ini akan jadi 'kampung bule', karena bagi mereka tanah di sini itu katanya 'murah'. Kami akan tersisih, akhirnya pergi dari kampung kami sendiri," tuturnya.

Warga sendiri sampai saat ini belum mendapat sosialisasi langsung terkait pembangunan residensial itu. Menurut Bambang, informasi yang mereka dapat justru datang dari media sosial.

Padahal, konstruksi pembangunan The Start Up Island sudah mulai berjalan. Pantai yang berada tepat di depan area pembangunan itu bahkan telah dipagari, membuat warga tidak bisa lagi melintas di depannya.

"Dulu pantai di sepanjang pantai barat Pulau Karimun itu kami gunakan untuk menanam rumput laut, aktivitas kita di situ lalu lalang lah, juga jadi area penggembala. Setelah dipagar ya sudah betul-betul enggak bisa," ujar Zakaria.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini