Share

Erick Thohir Minta PLN Jual Listrik ke Negara Lain, Caranya?

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Kamis 20 Januari 2022 14:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 20 320 2535120 erick-thohir-minta-pln-jual-listrik-ke-negara-lain-caranya-mgjKcIrABq.jpg Menteri BUMN Erick Thohir minta PLN jual listrik ke negara lain (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Menteri BUMN Erick Thohir meminta PLN menjual listrik ke negara lain. Ekspansi itu dipandang Menteri BUMN sebagai transformasi bisnis PLN.

Erick menilai, teknologi dan inovasi yang tersedia saat ini bisa mengkonversikan sumber daya alam (SDA) menjadi listrik. Misalnya, air, angin, matahari, hingga geothermal atau panas bumi. Potensi itulah harus dimanfaatkan PLN sebagai perseroan negara di sektor kelistrikan.

Baca Juga: Fakta-Fakta Tarif Listrik Non Subsidi Naik Mulai Juli 2022, Nomor 4 Tagihan 13 Golongan Ini Membengkak

"Banyak teknologi dan inovasi yang sekarang, air, angin, matahari, geothermal sudah menjadi listrik dan bisa dibaterainiin. Artinya, ini kesempatan juga, bukan hanya ini SDA saja, tetapi PLN bisa menjual listrik ke negara lain negara yang membutuhkan," ujar Erick, dikutip Kamis (20/1/2022).

Langkah itu dipastikan Erick akan dilakukan secara konstruktif. Salah satunya melalui pembentukan holding dan subholding PLN yang bergerak di bidang power plant atau pembangkit listrik.

Baca Juga: Sub Holding PLN Rampung Tahun Ini, Erick Thohir: Kita Enggak Lepas Pegawai Kalau Bisa Bertambah

Proses kajian pendirian unit usaha intens dilakukan pemegang saham dan manajemen. Termasuk, melakukan benchmarking (pembanding) dengan perusahaan kelistrikan asal Korea Selatan, Italia, Perancis, Malaysia, dan sejumlah negara lainnya.

Erick mencatat, setelah pembanding, pihaknya langsung melakukan spin off pembentukan subholding power plant itu. Targetnya, holding dan subholding akan terbentuk tahun 2022 ini.

"Confirm kita tuntaskan di tahun ini (holding dan subholding). 6 bulan sebelum akhir tahun ada virtual holding full transisi 2025. Tergantung kondisi transisi ini," katanya.

Di lain sisi, pembentukan holding dan subholding PLN diyakini tidak menambah beban utang perusahaan induk. Saat ini utang PLN tercatat mencapai Rp 460 triliun.

Erick memandang keberadaan holding dan subholding justru dapat mencari alternatif pendanaan lain dalam skema aksi korporasi. Hanya saja dia enggan merinci lebih jauh aksi korporasi yang dimaksudkan.

"Tapi utang PLN juga besar kan gak bisa nambah utang. Jadi subholding ini akan mencari pendanaan lain. Corporate action, bukan menjual aset negara," tutur dia.

Erick juga menegaskan, pendirian holding dan subholding BUMN kelistrikan itu tidak akan menjual aset negara untuk mendukung pembiayaannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini