Share

The Fed Diprediksi Naikkan Suku Bunga 4 Kali, Apa Dampaknya ke Ekonomi RI?

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Jum'at 21 Januari 2022 15:35 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 21 320 2535773 the-fed-diprediksi-naikkan-suku-bunga-4-kali-apa-dampaknya-ke-ekonomi-ri-ixEjXpD3ud.jpg Dampak kenaikan suku bunga AS terhadap ekonomi RI (Foto: Reuters)

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengungkap skenario bank sentral Amerika Serikat bakal mengerek suku bunga acuan mulai Maret 2022. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan masih terus membaca perkembangan situasi.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menganalisa empat dampak yang akan timbul apabila proyeksi kenaikan suku bunga Federal Reserve benar terjadi tahun ini.

Baca Juga: Wall Street Naik setelah Pidato Jerome Powell Meredakan Kekhawatiran Investor

"Kenaikan Fed rate sebanyak 4 kali tentu mempengaruhi beberapa indikator makro ekonomi Indonesia," tutur Bhima saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Jumat pagi (21/1/2022).

Bhima menilai bunga pinjaman di dalam negeri akan menjadi lebih mahal setidaknya naik 0,75% - 1% sampai akhir tahun, yang dapat membuat pembayaran bunga akan meningkat bagi pemegang pinjaman yang bersifat floating.

"Bank sentral biasanya melakukan antisipasi dengan naikan suku bunga mengikuti naiknya Fed rate," jelasnya.

Baca Juga: Dolar AS Menguat, Suku Bunga Fed Diperkirakan Naik Empat Kali

Dampak kedua, aliran modal keluar diprediksi akan semakin deras, yang terjadi akibat aksi investor mencari aset berbasis bunga di negara maju.

Bhima mewaspadai kondisi tersebut akan mirip seperti tahun 2013 saat tapering off the Fed membuat arus dana asing beranjak ke luar dan menekan nilai tukar rupiah. Ketiga, inflasi dalam negeri berisiko akan meningkat. Menurut Bhima, efek dari pelemahan nilai tukar akibat Fed rate naik bisa menyebabkan imported inflation atau kenaikan harga barang impor.

"Inflasi yang berlebih dapat menurunkan daya beli masyarakat," tegasnya.

Keempat, Bhima membaca beban utang pemerintah bisa semakin berat karena pembayaran utang luar negeri menjadi lebih mahal. Untuk mengantisipasi hal itu, terang Bhima, pemerintah perlu menekan utang dengan meningkatkan kemampuan bayar dan rasionalisasi belanja yang tidak efektif.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga menjadi waktu yang tepat bagi kreditur untuk membeli surat utang pemerintah.

"Bagi kreditur justru sebaliknya, waktu yang tepat membeli surat utang pemerintah karena kuponnya akan semakin menarik," pungkasnya.

Sebelumnya, Goldman Sachs Group Inc., memprediksi The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak empat kali pada tahun 2022 dan memulai untuk mengurangi neraca keuangan pada Juli. Ekonom Goldman Sachs Jan Hatzius mengatakan pasar tenaga kerja AS mengalami kemajuan pesat yang mendorong Fed lebih hawkish terhadap situasi ekonomi.

Pertemuan bulanan Fed terdekat dijadwalkan berlangsung pada pekan depan, 25 - 26 Januari 2022. Momen ini akan menjadi perhatian bagi para pelaku pasar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini