Share

PTBA Hilirisasi Batu Bara Jadi 1,4 Juta Ton DME

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Selasa 25 Januari 2022 15:29 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 25 278 2537539 ptba-hilirisasi-batu-bara-jadi-1-4-juta-ton-dme-Kop1eftc5O.jpg PTBA tingkatkan hilirisasi batu bara (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terus meningkatkan hilirisasi di tengah kenaikan harga batu bara. Tercatat proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan akan mengubah 6 juta ton batu bara menjadi 1,4 juta ton DME setiap tahun.

Direktur Pengembangan Usaha PT Bukit Asam Tbk Rafli Yandra menyampaikan, perseroan berharap dengan dukungan Presiden beserta dengan kementerian dan lembaga yang terkait, pembangunan pabrik DME ini akan berjalan dengan lancar.

Baca Juga: Bukit Asam (PTBA) Buka Suara soal Dampak Larangan Ekspor Batu Bara

“Nilai proyek hilirisasi batu bara menjadi DME mencapai USD2,1 juta atau setara Rp30 triliun,” ujarnya.

Asal tahu saja, proyek hilirisasi batu bara di Muara Enim merupakan kerja sama antara PT Bukit Asam Tbk, PT Pertamina Persero, dan investor asal Amerika Serikat, Air Products. Sementara Presiden Jokowi saat meresmikan berharap dapat menggantikan Liquid Petroleum Gas (LPG) yang selama ini kerap diimpor dengan nilai Rp80 triliun per tahun.

Baca Juga: Arsal Ismail Diangkat Jadi Direktur Utama Bukit Asam

”Kita memiliki bahan bakunya, raw material-nya (bahan mentah), yaitu batu bara yang diubah menjadi DME. Hampir mirip dengan LPG, tadi saya sudah melihat bagaimana api dari DME untuk masak, api dari LPG untuk masak, sama saja,” ujar Presiden.

Presiden mengatakan, sudah berkali-kali dirinya menyampaikan pentingnya proyek hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam agar Indonesia mampu mengurangi impor. Impor untuk LPG, kata Presiden, setiap tahun mencapai Rp80 triliun dari kebutuhan yang sebesar Rp100 triliun. Untuk bisa dikonsumsi masyarakat, pemerintah juga harus menyalurkan subsidi hingga Rp60-70 triliun.“Apakah ini mau kita teruskan? impor terus? ,” ujarnya.

Karena itu, Presiden mendorong program hilirisasi sumber daya alam di dalam negeri agar dapat menghasilkan produk bernilai tambah yang mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.“Kalau ini dilakukan, ini saja, yang di Bukit Asam (PT. Bukit Asam Tbk) yang kerja sama dengan Pertamina (PT Pertamina Persero) dan Air Product (Air Products & Chemicals) ini, bisa mengurangi subsidi dari APBN itu Rp7 triliun,” jelas Presiden.

Jika impor dapat terus dikurangi, kata Presiden, maka neraca barang dan jasa yang terekam dalam neraca transaksi berjalan akan terus membaik. Karena itu, proyek hilirisasi batu bara ini diharapkan dapat mengurangi impor gas.“Ini yang terus kita kejar. Selain bisa memperbaiki neraca perdagangan kita karena tidak impor, memperbaiki neraca transaksi berjalan kita juga karena tidak impor,” kata Presiden Jokowi.

Sebelumnya, Direktur Utama PTBA, Asral Ismail pernah bilang, perusahaannya memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasar dalam negeri (DMO) untuk merespons berkurangnya cadangan energi batu bara PLN. Oleh karena itu, adanya keputusan pemerintah yang melarang ekspor batu bara bagi perusahaan tambang di dalam negeri terhitung 1 Januari-31 Januari 2022, menurutnya harus dihormati semua pihak karena demi terjaganya ketahanan energi nasional.

Hingga saat ini, PTBA yang memiliki wilayah operasi di Tanjung Enim (Sumatera Selatan), di Ombilin (Sumatera Barat) dan Tarahan (Lampung) terus memenuhi kewajiban pasok dalam negeri. Dirinya memperkirakan pada triwulan II pihaknya akan merevisi target ekspor batu bara ke sejumlah negara yang sebelumnya sudah direncanakan sejak tahun 2021.”Ini kan baru awal tahun, kami penuhi dulu apa yang ditugaskan pemerintah. Kemungkinan revisi target (ekspor) di triwulan II,” kata Arsal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini