Share

75 Penawaran Umum Saham Diproses OJK, Nilainya Rp31,8 Triliun

Antara, Jurnalis · Kamis 27 Januari 2022 15:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 27 278 2538740 75-penawaran-umum-saham-diproses-ojk-nilainya-rp31-8-triliun-k3Ywbuk6lq.jpg 75 penawaran umum saham diproses OJK (Foto: Antara)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah memproses 75 penawaran umum saham dengan nilai total Rp31,84 triliun. Hal ini membuat OJK optimis raising fund di pasar modal akan melanjutkan pertumbuhan pada 2022.

Baca Juga: Investasi Robot Trading DNA Pro Ilegal, OJK Minta Masyarakat Waspada

"Sampai dengan 25 Januari 2022 kemarin telah terdapat 7 penawaran umum dengan nilai penawaran Rp4,9 triliun. Saat ini terdapat 75 penawaran umum dalam proses pipeline dengan nilai total Rp31,84 triliun," kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, Kamis (27/1/2022).

OJK mencatat kinerja pasar modal pada tahun 2021 tumbuh cukup baik meskipun pandemi COVID-19 masih menyebar dengan kemunculan varian baru. Pada tahun 2021 raising fund di pasar modal tercatat mencapai Rp363, 28 triliun atau tumbuh 206% dibandingkan 2020 lalu dengan nilai Rp118 triliun.

Baca Juga: Investasi Ilegal Aset Kripto, OJK: Seluruh Rekening Tidak Boleh Digunakan untuk Penipuan

Per 26 Januari 2022, IHSG ditutup menguat pada 6.600,83 atau lebih tinggi dibandingkan saat pandemi mulai menyebar di 2 Maret 2020 yakni 5.361,25.

Di samping itu, OJK mencatat pada 2021 investor non residence melakukan net buy di pasar saham dengan nilai Rp37,97 triliun. Pada saat yang sama jumlah investor ritel juga tumbuh 93% year on year menjadi 7,5 juta dengan investor berusia di bawah 30 tahun mendominasi.

"Sementara itu dapat kami sampaikan di pasar surat utang terpantau masih volatile karena ada sentimen hawkish dari The Fed yang menyebabkan yield US Treasury makin meningkat. Akibatnya timbul tekanan di pasar surat utang terutama di emerging market," ucapnya.

OJK juga menyampaikan bahwa kinerja emiten sampai kuartal III 2021 mulai menunjukkan pemulihan sebagaimana terlihat dalam perbaikan likuiditas, debt equity ratio, dan interest coverage ratio emiten.

Namun demikian, masih terdapat beberapa isu, seperti belanja modal emiten non infrastruktur yang terpantau belum pulih dan debt equity ratio emiten di sektor infrastruktur serta pproperti yang masih cukup tinggi.

"Dan beberapa isu ini akan kami dukung dari sektor jasa keuangan untuk diatasi bersama agar pertumbuhan ekonomi baik ke depan," ucap Wimboh.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini