Share

Unilever Bakal PHK 1.500 Karyawan, Kenapa?

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Sabtu 29 Januari 2022 14:22 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 29 320 2539758 unilever-bakal-phk-1-500-karyawan-kenapa-WT8bSKzS04.jpg Unilever Bakal PHK Karyawan (Foto: Reuters)

JAKARTA – Perusahaan produk konsumsi terbesar, Unilever mengumumkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap total 1.500 karyawan manajernya di tingkat global.

Dari angka tersebut setidaknya ada pelepasan 15 persen jabatan senior dan 5 persen junior di tingkat perusahaan yang mengelola merek sabun Dove dan es krim Magnum itu.

CEO Unilever Alan Jope menuturkan pemangkasan karyawan memiliki latar belakang perubahan model organisasi perusahaan menjadi lima lini grup bisnis antara lain produk perawatan pribadi, kecantikan, urusan rumah, nutrisi, hingga es krim.

"Kami telah mengembangkan model struktur baru organisasi selama setahun terakhir dan ini dilakukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan," katanya sebagaimana tertuang dalam laporan Reuters, dikutip Sabtu (29/1/2022).

Alan menyatakan restrukturisasi organisasi ini tidak berdampak terhadap karyawan pabrik Unilever yang tersebar di seluruh dunia. Dirinya berharap bentuk model bisnis baru akan membuat perusahaan lebih responsif terhadap tren perkembangan saat ini.

Sebelumnya, muncul kabar bahwa pemangkasan karyawan terjadi menyusul gagalnya Unilever dalam mengakuisisi unit perawatan kesehatan yang dimiliki GlaxoSmithKline (GSK) dan Pfizer senilai GBP50 miliar. Unilever secara tegas menyatakan tidak akan meningkatkan nilai penawaran tersebut.

Pilihan tersebut menghadirkan kritik yang datang dari investor Univeler, yang menyebut terlalu perhitungan di tengah risiko tantangan bisnis yang mendesak, seperti lonjakan inflasi di pasar negara berkembang.

Unilever saat ini sedang berjuang melawan dampak pandemi dengan meningkatnya biaya bahan baku, tenaga kerja dan transportasi.

Eksposurnya terhadap bisnis makanan di pasar negara berkembang yang tengah menghadapi kenaikan inflasi, menempatkan Unilever pada posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan saingannya P&G dan Nestle.

Karena Unilever terus tertinggal, investor menjadi frustrasi atas kinerjanya. Pada Kamis lalu (27/1), seorang manajer investasi asal Inggris Terry Smith mengkritik perusahaan melalui sebuah surat kepada investor Fundsmith LLP-nya, dan mendesak manajemen untuk fokus pada penguatan kinerja.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini