Share

Pesanan Naik 100%, Perajin Mukena dan Kerudung Sulam Banjir Cuan Jelang Lebaran 2022

Avirista Midaada, Jurnalis · Selasa 26 April 2022 18:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 26 455 2585644 pesanan-naik-100-perajin-mukena-dan-kerudung-sulam-banjir-cuan-jelang-lebaran-2022-C4SUtFh4Y8.JPG Perajin mukena sulam banjir pesanan jelang Lebaran 2022. (Foto: Okezone)

MALANG - Perajin mukena sulam kebanjiran pesanan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah atau Lebaran 2022.

Banyaknya pesanan membuat perajin mukena terpaksa menolak puluhan pesanan yang datang.

Karena pesanan itu datang jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadan datang.

Pasalnya satu produk mukena sulam memerlukan waktu pengerjaan paling tidak satu bulan. Dibantu beberapa pekerjanya dan siswa-siswi SMK yang sedang praktek magang, pemilik usaha Nurul Hidayati mengerjakan pesanan mukena dan kerudung sulam di rumahnya di Jalan Sunan Muria II, Kelurahan Lowokwaru, Kota Malang.

 BACA JUGA:Hari Terakhir Mogok Produksi, Perajin Tahu Tempe Harap Harga Kedelai Bisa Turun

Terlihat sejumlah perempuan muda tengah menjahit membentuk pola sulaman dari mukena dan beberapa fashion yang dipesan pembeli.

Sementara di bagian lain, beberapa anak muda tengah memotong kain untuk dijadikan pola-pola tertentu sesuai permintaan pembeli.

Nurul mengatakan, para pekerjanya harus lebih ekstra bekerja di tengah melonjaknya pesanan menjelang Lebaran 2022.

Bahkan, beberapa pesanan yang diperuntukkan menjelang lebaran sudah dikerjakannya sebelum Ramadan datang.

"Kita banyak menerima pesanan, banyak mengerjakan untuk bulan ini jadi memang proses produksinya yang panjang kita ordernya dimulai jauh-jauh hari," ujarnya, Selasa (26/4/2022).

Dia mengungkapkan kalau pelonggaran beberapa aturan terkait pandemi Covid-19 dan diperbolehkannya mudik menjadikan produksi mukena dan kerudung sulam di brand Almira Handmade, meningkat 100 persen dibandingkan tahun 2021 lalu.

Tercatat tahun ini setidaknya ada 500 lebih pesanan, yang didominasi oleh mukena sulam.

 BACA JUGA:Harga Kedelai Mahal Bikin Perajin Mogok Produksi! Tahu Tempe Jadi Langka, Kenapa Selalu Begini?

"Naik 100 persen dibanding tahun kemarin pada saat Corona. Hampir sudah mendekati normal, hampir mirip dengan tahun-tahun sebelumnya," ungkapnya.

Pesanan itu disebutnya datang dari beberapa kota besar di seluruh Indonesia, mulai dari Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, hingga Jambi.

Adapun beberapa pesanan datang dari luar negeri seperti Malaysia yang diperuntukkan lebaran 2022.

"Jadi kita kalau untuk seperti ini momen saja, menjelang puasa dan lebaran kerudung, ada permintaan mukena jadi seperti itu. Jadi kalau untuk produk - produk, kecuali yang lain untuk baju seperti itu yang kontinyu tapi per musim biasanya," ucapnya.

Guna memaksimalkan kualitas produksi mukena dan kerudung miliknya, dia sudah memproduksi jauh-jauh hari sebelum Ramadan tiba.

Beberapa mukena sulam dan kerudung sulam bahkan telah diproduksi setelah Hari Raya Idul Adha, lamanya proses pengerjaan produk dan mengutamakan kualitas membuatnya tak bisa sembarangan menerima pesanan.

"Jadi sampai close order sudah di bulan Ramadhan jadi tidak menerima pesanan tinggal ngambil ngambil seperti itu saja. (Yang ditolak) Banyak puluhan, bukan ditolak, sudah kita pending, kita kerjakan setelah lebaran. Sudah banyak puluhan yang mengantri, beberapa sudah dikerjakan tinggal nyulam," jelasnya.

Dia pun hanya dibantu tiga pekerja tetap di rumah produksinya, yang menjahit dan membentuk pola-pola sulaman pada mukena dan kerudungnya.

Sedangkan beberapa pekerjanya yang tersisa kini harus bekerja ekstra mengerjakan sulaman mukena tangan, dari rumah masing-masing di tengah banyaknya pesanan yang datang.

Dia beralasan belum menambah pekerja lagi karena membuat produk sulam bukan perkara mudah, memerlukan pelatihan - pelatihan, ketelitian, dan ketekunan, yang tidak sembarangan orang bisa melakukannya.

"(Penambahan pekerja) gak ada, kalau pengurangan iya, karena banyak meninggal kena Covid. Beberapa banyak yang meninggal pas delta itu. Penambahan pekerja masih belum, karena untuk menambah pekerja di tempat kami perlu latihan, perlu harus dilatih dulu dengan jam terbang yang agak lama. Selama pandemi itu kita nggak bisa ngelatih orang, kita nggak ada pelatihan, biasanya ke desa-desa, dengan kondisi sekarang ini justru turun," paparnya.

Kendala lain yang dihadapi Nurul yakni tingginya biaya produksi.

Kenaikan harga kain per meternya mencapai 10 persen menjadikan beban produksi bertambah, beruntung beberapa jenis kain dirinya masih mempunyai stok dari produksi lama saat Covid-19 sedang tinggi - tingginya.

"Untungnya kita masih punya stok, itu makanya kita tidak naik itu karena kain itu kita banyak karena terhenti oleh Covid kemarin. Dengan harga yang ini, makanya kita harganya masih tetap. Seandainya kita beli sekarang ya kita nggak mungkin (tetap harganya), tahun ini tahun yang akan datang pasti naik. Karena kan kainnya naik, hampir tiap minggu naik, per yard hitungannya, naiknya bisa 10 persen, beban paling tinggi di produksi," urainya.

Dia juga harus menambah ongkos kepada para pekerja di tengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan pangan pokok.

Meski demikian, dia belum berani menaikkan harga produknya karena berniat kembali membuka pasar di tengah melonggarnya aturan pandemi Covid-19.

Dia memilih keuntungannya berkurang sedikit dibandingkan harus kehilangan beberapa pelanggan tetapnya.

"Kita gak bisa menaikkan harga jual, karena kita masih mencari pasar lagi. Jadi membuka pasar lagi, seperti sebelum Covid. Meskipun semuanya pada naik, jadi kita menurunkan margin keuntungan saja. Tahun ini kita menangnya karena di kuantitas banyak pesanan, jadi kuantitas lebih besar," tukasnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini