Share

Kisah Anak Petani Kini Jadi Pengusaha Sepatu Kaya Raya Berharta Rp174 Triliun

Tim Okezone, Jurnalis · Sabtu 30 April 2022 14:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 30 455 2587613 kisah-anak-petani-kini-jadi-pengusaha-sepatu-kaya-raya-berharta-rp174-triliun-aRQs7GBJ0h.jpg Kisah orang terkaya nomor satu di Taiwan. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Zhang Congyuan menjadi orang terkaya nomor satu di Taiwan 2022 versi Forbes.

Dikutip Forbes pada Sabtu (30/4/2022), Zhang Congyuan memiliki harta kekayaan USD12,1 miliar atau setara Rp174 triliun. (Kurs: Rp14.400).

Dia merupakan pendiri Huali Industrial Group.

Bahkan, dia memulai bisnisnya sudah lebih dari tiga dekade lalu.

 BACA JUGA:Harta 50 Orang Terkaya Taiwan Naik Tembus Rp2.275 Triliun meski Ada Omicron

Awalnya, dia tak mampu membeli pabrik, sampai akhirnya mengubah peternakan babi di sebelah sawah di Taiwan barat menjadi sebuah pabrik sepatu.

Lalu, pada tahun 2019, perusahaannya memproduksi lebih dari 180 juta pasang sepatu. Huali adalah pemasok sepatu merek global untuk Nike, Converse, dan Vans.

Adapun saham Huali saat itu melonjak 162 persen sejak go public di Bursa Efek Shenzhen pada April 2021 lalu.

Di mana kenaikan saham tersebut mendorongnya memiliki 87 persen saham perusahaan bersama keluarganya masuk dalam daftar orang terkaya di negara itu.

Dia juga sekarang lebih kaya dibanding Terry Gou dari Foxconn Technology Group.

Dia pun ternyata dibesarkan di sebuah desa. Dia hanya mengelola perusahaan kecil.

"Selama beberapa dekade terakhir, saya hanya menempatkan semua usaha saya ke sepatu," kata dia, dikutip dari Bloomberg, Minggu (12/9/2021).

Zhang mengakui kalau dia tipe orang yang membosankan, karena hanya melakukan hal-hal yang dikuasainya.

Zhang lahir di Taiwan pada 1948, dia adalah seorang anak dari keluarga petani.

Zhang menyelesaikan kuliahnya jurusan pertanian, setelah itu bekerja di pabrik untuk memproduksi sepatu wanita.

Semua bisnisnya itu dari uang tabungannya sampai akhirnya Zhang mendirikan beberapa usaha alas kaki di Taiwan dan Guangdong di China selatan pada 1980-an.

Dilanjut, pada 1990, Zhang mendirikan Liangxing Industrial dengan mitra di Hong Kong. Liangxing Group go public di Hong Kong pada 1995, kemudian berganti nama menjadi Symphony Holdings.

Adapun Zhang mendirikan Huali di Zhongshan, sebuah kota daratan China dekat Hong Kong pada 2004. Lalu, dia dan keluarganya membeli aset dari Symphony pada 2014 untuk mengembangkan Huali saat dia berhenti menjabat sebagai direktur Symphony pada tahun yang sama.

 BACA JUGA:Kisah 5 Orang Terkaya Indonesia Pilih Jadi Mualaf hingga Bangun Ratusan Masjid

Kini, Huali juga beroperasi di Vietnam, Myanmar dan Republik Dominika. Zhao Shuli, seorang analis di Industrial Securities di Shanghai menulis dalam laporannya, prospek perusahaan milik Zhang bagus.

"Meskipun lingkungan konsumen global dilanda pandemi pada tahun 2020, Huali telah mempertahankan kapasitas dan pengiriman yang stabil. Lokasi pabrik globalnya sampai batas tertentu membantunya mencapai pertumbuhan laba yang lebih baik daripada rekan-rekan industri," tulis Zhao.

Diketahui, Huali melaporkan pendapatan 13,9 miliar yuan pada tahun lalu.

Untuk laba bersihnya tercatat sebesar 1,9 miliar yuan, meningkat 8 persen dari tahun sebelumnya. Tetapi Zhao mencatat, pandemi dan ketergantungan perusahaan pada klien besar tertentu dapat menghambat pertumbuhannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini