Share

Curhatan Petani Sawit di Tengah Larangan Ekspor CPO, Apa yang Terjadi?

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Jum'at 13 Mei 2022 09:46 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 13 320 2593473 curhatan-petani-sawit-di-tengah-larangan-ekspor-cpo-apa-yang-terjadi-ApowDcn1dj.jpg Curhatan petani sawit di tengah larangan eskpor CPO. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menyampaikan beberapa situasi terkini dengan tuntutan serta solusi yang perlu dijalankan oleh pemerintah di tengah larangan ekspor CPO saat ini.

Sekretaris Jendral SPKS, Mansuetus Darto mengatakan, kebijakan pelarangan ekspor CPO dan bahan baku minyak goreng harus dijadikan momentum pemerintah untuk merombak sistem perkebunan kelapa sawit yang ada.

"Masalah yang dihadapi sektor perkebunan kelapa sawit secara nasional paling tidak didasari oleh tiga aspek," ujarnya lewat siaran pers yang diterima MNC Portal Indonesia, Jumat (13/5/2022).

Pertama, reforma agraria yang belum dijalankan karena perkebunan kelapa sawit masih menjadi sumber konflik dan ketimpangan penguasaan hingga kepemilikan tanah.

 BACA JUGA:Indonesia Larang Ekspor CPO Bikin Malaysia Untung Besar

Kedua, pekebunan kelapa sawit yang menerapkan sistem pertanian monokultur berdampak pada lingkungan hidup.

"Ketiga, ketergantungan petani sawit kepada korporasi kelapa sawit sangat akut, petani sawit belum mempunyai pabrik pengelolaan kelapa sawit, seperti industri pengolahan menjadi CPO hingga minyak goreng. Hulu hilir kelapa sawit hanya dikuasai segelintir orang kuat," jelasnya.

Oleh karena itu, Darto menyampaikan, pemerintah segera mengawasi dan mengambil tindakan hukum yang tegas kepada pabrik kelapa sawit/perusahaan dari tingkat trader, grower hingga produsen yang ikut andil dalam menentukan harga Tandan Buah Segar (TBS).

Di mana kelapa sawit secara sepihak di lapangan yang tidak berdasar pada harga penetapan pemerintah.

"Selain itu pemerintah perlu mengawasi berbagai praktik menyimpang lainnya yang merugikan petani sawit," ucapnya.

Secara detail Darto mencontohkan, perusahaan Wilmar melalui anak perusahaannya PT Citra yang memiliki tiga pabrik kelapa sawit (PKS) sampai dengan saat ini masih tutup.

 BACA JUGA:Pungutan Ekspor CPO Naik, NSS Pede Pendapatan Tumbuh 45%

Sehingga berpengaruh terhadap penurunan harga TBS kelapa sawit yang cukup tinggi.

Adapun di tingkat petani harga TBS kelapa sawit berkisar Rp1.600-Rp1.750 per kilogram.

Sama halnya dengan kondisi di Sumatera dan Kalimantan Barat.

"Gejolak harga TBS yang terjadi saat ini membuat petani panik dan mempengaruhi ekonomi keluarga petani," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini