Share

Menakar Kinerja Saham ICBP dan INDF Usai India Larang Ekspor Gandum

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Senin 16 Mei 2022 17:35 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 16 278 2595015 menakar-kinerja-saham-icbp-dan-indf-usai-india-larang-ekspor-gandum-iljJnqN4Fn.jpg Menakar saham ICBP dan INDF pasca larangan ekspor gandum (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemerintah India melarang ekspor gandum menyusul inflasi indeks harga konsumen tahunan sebesar 7,79% pada April 2022, dengan inflasi makanan melejit 8,38%.

Menurut data Statista.com, Indonesia merupakan pengimpor gandum ketiga terbesar dunia setelah Mesir dan Turki pada periode 2020/2021. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia mengimpor gandum dan meslin dari tiga negara besar yakni Australia, Ukraina, hingga Kanada, dengan total nilai impor mencapai 11,17 juta ton senilai USD3,45 miliar.

Ketika India menutup pintu ekspor maka pasokan komoditas agrikultur itu diperkirakan bakal terbatas. Saat suppy menipis ditambah permintaan yang meningkat, secara otomatis akan meningkatkan harga gandum di tingkat global, serta mengancam produknya seperti harga tepung terigu dan mie instan.

Salah satu perusahaan domestik yang bergantung dengan produk dari gandum adalah Indofood, yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Berdasarkan prospektusnya, ICBP adalah perusahaan hasil pengalihan kegiatan usaha Divisi Mi Instan dan Divisi Bumbu Penyedap dari INDF. ICBP membeli bahan baku tepung terigu dari kelompok usaha Bogasari INDF yakni PT Bogasari Sentra Flour Mills (BSFM) dan PT Bogasari Flour Mills (BFM), yang merupakan perusahaan penggilingan biji gandum.

"Kelompok usaha membeli bahan baku seperti tepung terigu dari Divisi ISM Bogasari dengan harga jual yang disepakati dengan ketentuan bahwa harga jual produk tidak boleh lebih tinggi dari harga jual ISM kepada pihak ketiga lain yang bergerak di bidang industri sejenis," kata perseroan dalam Laporan Keuangan ICBP 2021 di Keterbukaan Informasi, dikutip Senin (16/5/2022).

Sementara pada lapkeu INDF pada 2021 menunjukkan perseroan mengeluarkan Rp49,18 triliun untuk biaya bahan baku, ditambah beban produksi senilai Rp16,49 triliun. Ini menambah beban pokok INDF senilai Rp66,88 triliun.

Sebagian besar pemasok bahan baku INDF datang dari Sojitz Asia Pte. Ltd Singapura, (Sojitz), sebesar 12,68%, meningkat dari tahun 2020 sebesar 9,44%.

Baik INDF dan ICBP mengkhawatirkan risiko harga komoditas dari beberapa faktor, seperti cuaca, kebijakan pemerintah, tingkat permintaan dan penawaran pasar dan lingkungan ekonomi global. Sepanjang 2021, INDF menerima dampak yang ditimbulkan dari pembelian minyak kelapa sawit (CPO).

Untuk mengantisipasi fluktuasi harga komoditas global, kelompok usaha perseran melakukan penyesuaian harga jual produk secara berkala. Artinya, terdapat kebijakan untuk menaik-turunkan harga produk di pasar.

Secara umum kedua emiten milik Salim Group ini telah mengalami kenaikan cukup signifikan dalam lima hari perdagangan terakhir. Dalam hitungan sepekan per Jumat (13/5), ICBP naik 7,21%, dan INDF menguat 2,38%.

ICBP meraih laba bersih sebesar Rp6,38 triliun pada 2021. Realisasi itu lebih rendah 3,01% dari laba tahun 2020 senilai Rp6,58 triliun. Sementara INDF menghasilkan laba bersih Rp7,64 triliun, meningkat 18,38% dari 2020 sebesar Rp6,45 triliun.

Untuk diketahui, Perdana Menteri India, Narendra Modi melarang pengiriman ke luar negeri untuk seluruh varietas gandum termasuk durum berprotein tinggi, tepung gandum, hingga roti, per 13 Mei 2022, dikutip dari Reuters, Senin (16/5/2022).

Data periode 2019/2020 menunjukkan India merupakan produsen gandum nomor dua terbesar di dunia, setelah China. Sedangkan eksportir terbesar gandum pada 2021 adalah Amerika Serikat, Kanada, Rusia, Australia, dan Uni Eropa (Wits, World Bank).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini