Share

Indo Tambangraya Megah (ITMG) Catat Penjualan Rp9,2 Triliun di Kuartal I-2022

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 18 Mei 2022 16:29 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 18 278 2596186 indo-tambangraya-megah-itm-catat-penjualan-rp9-2-triliun-di-kuartal-i-2022-YuG7L6DTZu.jpg Indo Tambangraya Megah catat penjualan Rp9,2 triliun. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menunjukkan kinerja triwulan pertama yang kuat dengan memanfaatkan momentum tingginya harga batubara di tengah situasi global yang tidak pasti dan berisiko.

Pada triwulan pertama tahun 2022, Perusahaan membukukan penjualan bersih sebesar USD640 juta atau setara Rp9,2 triliun berkat kenaikan harga batubara yang signifikan. (Kurs: Rp14.400).

Pada kurun waktu ini, ITM mampu memperoleh rata-rata harga jual batubara sebesar USD150 per ton, yang artinya lebih tinggi 121% dari periode yang sama tahun lalu.

Marjin laba kotor naik signifikan dari 30% pada triwulan pertama tahun lalu menjadi 53% pada triwulan tahun ini.

 BACA JUGA:MNC Energy Investments (IATA) Bakal Tambah Modal Melalui HMETD Rp50 per Saham

Perusahaan terus menerapkan strategi manajemen biaya yang efisien dan berhati-hati guna memaksimalkan profitabilitas dari momentum kenaikan harga batubara sehingga mampu memperoleh EBITDA sebesar USD323 juta pada triwulan pertama, naik 277% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih naik dari USD42 juta pada triwulan pertama tahun 2021 menjadi USD213 juta pada kurun waktu yang sama tahun ini. Adapun Laba bersih per saham dibukukan sebesar USD0,19.

Sampai dengan akhir Maret 2022, total aset Perusahaan tercatat sebesar USD2,0 miliar dengan total ekuitas USD1,2 miliar. Sejalan dengan arus kas dan EBITDA yang kuat, Perusahaan juga memiliki posisi kas dan setara kas yang solid sebesar USD922 juta.

Segala pencapaian dan kinerja perusahaan di atas dicatatkan di tengah kondisi yang menantang dan ketidakpastian global. Pasca pandemi, kondisi ekonomi secara global belum pulih sedangkan inflasi tercatatkan tinggi, salah satunya karena dipengaruhi oleh naiknya harga komoditas energi.

Selain itu, terdapat juga disrupsi pada rantai nilai global dan perdagangan internasional batubara dikarenakan keputusan politis dan/atau intervensi pemerintah, misalnya dengan adanya keputusan pelarangan ekspor batubara di Indonesia pada Januari 2022 dan berlangsungnya perang Rusia-Ukraina.

Agar dapat menghadapi situasi yang masih tidak menentu, ITM memiliki kerangka ketangguhan organisasi dengan berintikan karyawan ITM yang menjalankan budaya perusahaan, Banpu Heart.

Kerangka ketangguhan ITM dibangun oleh Karyawan ITM dengan menegakkan tiga pilar ketangguhan, yaitu manajemen risiko, hubungan dengan para pemangku kepentingan, serta strategi bisnis dan struktur organisasi.

 BACA JUGA:Melantai di BEI, Oscar Mitra Sukses Sejahtera (OLIV) Lepas 400 Juta Saham

Operasionalisasi dari kerangka ketangguhan ITM memungkinkan perusahaan agar mencapai kinerja yang baik di tengah eksternalitas yang menantang.

Inisiatif dan usaha tersebut di antaranya meliputi operasi dan proses bisnis yang kuat, optimasi pendapatan, organisasi yang berbasiskan data, fokus terhadap lingkungan, sosial, dan tatakelola dan digitalisasi, serta manajemen biaya dan neraca keuangan yang kuat.

Ke depannya, dengan berbekal ketangguhan dan pengalamannya, ITM akan bertransformasi untuk menjadi perusahaan energi Indonesia terdepan yang lebih hijau dan cerdas dengan memusatkan perhatian pada tiga lini bisnis.

Yang pertama adalah lini pertambangan yang mencakup batubara, mineral, dan kegiatan pertambangan terkait lainnya sebagai bisnis utama.

Dalam hal ini, Perusahaan terus berupaya memaksimalkan aset batubara yang sudah ada, termasuk terus mengembangkan tambang di lahan baru (greenfield) yang dimiliki oleh Perusahaan, yaitu pada PT Graha Panca Karsa (GPK), PT Nusa Persada Resources (NPR), dan PT Tepian Indah Sukses (TIS).

Di samping itu, Perusahaan sedang melakukan pra-kajian kelayakan gasifikasi batubara di PT Indominco Mandiri (IMM) dan juga menjajaki peluang investasi di usaha pertambangan mineral dan metal.

Yang kedua, jasa energi yang mencakup jasa kontraktor pertambangan, perdagangan, solusi modal alam, dan pemanfaatan prasarana logistik yang saat ini dimiliki guna menciptakan nilai lebih dari operasi energi Perusahaan yang telah mapan.

Terakhir adalah bisnis terbaharukan dan lain-lain yang berkaitan dengan investasi energi terbaharukan dan teknologi energi lainnya.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pelabuhan Bontang telah meningkatkan porsi konsumsi energi dari sumber energi terbaharukan dan Perusahaan tengah membangun PLTS baru di Melak.

Perusahaan juga memanfaatkan peluang usaha panel surya atap yang kebutuhannya kian bertumbuh di tanah air.

PT Cahaya Power Indonesia (CPI), sebagai contoh, adalah anak usaha yang baru didirikan sebagai langkah awal Perusahaan memasuki bisnis atap surya.

Pada triwulan pertama ini, CPI telah menandatangani Perjanjian Pembelian Tenaga Listrik (PPA) atap surya dengan total kapasitas 5,9 MWp.

Saat ini, kinerja operasional dari usaha batubara tetap akan berkontribusi cukup signifikan. Sepanjang triwulan pertama 2022, ITM telah memproduksi batubara sebanyak 3,8 juta ton di tengah cuaca buruk dan hujan ekstrim.

Volume penjualan tercapai sebanyak 4,3 juta ton, yang dipasarkan ke Tiongkok (1,3 juta ton), Indonesia (0,9 juta ton), Jepang (0,6 juta ton), Bangladesh (0,4 juta ton), Filipina (0,3 juta ton), Thailand (0,3 juta ton), dan negara-negara lain di Asia Timur, Tenggara, Selatan serta Oseania.

Untuk tahun 2022, Perusahaan menargetkan volume produksi sebanyak 17,5-18,8 juta ton dengan volume penjualan sebesar 20,5-21,5 juta ton.

Dari target volume penjualan tersebut, sebanyak 31% harga jualnya telah ditetapkan, 46% mengacu pada indeks harga batubara, 2% harga jualnya belum ditetapkan dan sisa 21% belum terjual.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini