Share

Gara-Gara Ini, Bos Shopee Forrest Li Alami Kerugian Rp8,46Triliun

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis · Kamis 19 Mei 2022 12:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 19 455 2596631 gara-gara-ini-bos-shopee-forrest-li-alami-kerugian-rp8-46triliun-VjZWx07fjB.jpg Kekayaan miliarder Singapura anjlok (Foto: Forbes)

JAKARTA Miliarder Forrest Li pendiri dan CEO Sea Ltd (induk Shopee dan Garena) mengalami kerugian pada kuartal pertama. Hal ini karena kerugian di platform e-commerce Shopee meluas dan pengeluaran melonjak.

Raksasa e-commerce dan game yang berbasis di Singapura melaporkan pada Selasa bahwa kerugian bersihnya pada kuartal pertama yang berakhir Maret meluas menjadi USD580 juta atau setara Rp8,46 triliun (kurs Rp14.600 per USD) dari USD422 juta.

Sementara, pendapatan keseluruhan naik 64% menjadi USD2,9 miliar, biaya operasional perusahaan melonjak 68% menjadi USD1,7 miliar sebagian besar karena biaya pemasaran yang lebih tinggi serta pengeluaran penelitian dan pengembangan, kata perusahaan dalam sebuah pernyataan.

Kerugian yang semakin besar terjadi ketika Sea mengkonsolidasikan operasi e-commerce menyusul dorongan ekspansi global yang agresif dalam beberapa tahun terakhir.

Pada bulan Maret, Sea menarik diri dari India dan Prancis untuk fokus pada pasar utama di Brasil, Asia Tenggara, dan Taiwan. Sementara pendapatan e-commerce naik 64% menjadi USD1,5 miliar dibandingkan tahun sebelumnya, kerugian operasional Shopee meningkat 77% menjadi USD810,6 juta.

“Dalam dua tahun terakhir, kami berhasil menavigasi ketidakpastian utama yang dibawa oleh pandemi untuk menangkap peluang pertumbuhan signifikan yang disajikan kepada kami di semua bisnis,” kata Li dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir dari Forbes, Kamis (19/5/2022).

“Saat kami memasuki periode baru, kami menyadari bahwa tren makro dan ketidakpastian saat ini dapat memengaruhi kawasan kami dan dunia dalam waktu dekat hingga jangka menengah,” lanjutnya.

Ketika invasi Rusia ke Ukraina, kenaikan suku bunga dan lonjakan harga komoditas mengurangi prospek ekonomi global, konsumen yang kembali ke kantor mereka setelah penguncian pandemi dalam dua tahun terakhir mulai mengurangi pembelian online.

Sementara pendapatan dari hiburan digital—bisnis paling menguntungkan di Sea—meningkat 45% menjadi USD1,1 miliar pada kuartal pertama dari tahun sebelumnya, pemesanan turun 26% menjadi $800 juta. Pengguna aktif platform gamenya turun 5% menjadi 615,9 juta setelah India melarang game seluler andalannya Free Fire pada Februari.

Larangan India bersama dengan raksasa teknologi China Tencent yang mengurangi kepemilikannya di perusahaan memicu aksi jual harga saham Sea, yang telah merosot hampir 80% dari level tertinggi sepanjang masa di USD366,99 per saham yang terlihat pada Oktober.

Saham telah reli sejak debut pasarnya di Bursa Efek New York pada tahun 2017, dengan kenaikan yang semakin cepat selama pandemi ketika permintaan untuk bisnis game online, e-commerce, dan pembayaran Sea meningkat hingga Tencent mulai menjual saham Sea.

Penurunan harga saham Sea telah menyeret turun kekayaan tiga pendiri perusahaan, dengan kekayaan bersih real-time dari ketua Sea Li, 44, jatuh menjadi USD4,6 miliar minggu ini dari USD15,9 miliar pada Agustus ketika daftar 50 Orang Terkaya di Singapura diterbitkan.

Li mendirikan Sea dengan Gang Ye dan David Chen pada tahun 2009, tahun dimana ketiganya meluncurkan platform game online Garena. Berasal dari China daratan, para mitra kini menjadi warga negara Singapura yang dinaturalisasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini