Share

Harga Batu Bara Turun Hampir 2% Hari Ini, Ini Biang Keroknya

Athika Rahma, Jurnalis · Selasa 24 Mei 2022 11:51 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 24 320 2599297 harga-batu-bara-turun-hampir-2-hari-ini-ini-biang-keroknya-FaO1F2W9qg.jpg Harga batu bara turun. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Harga batu bara mengalami penurunan pada perdagangan hari ini, Selasa (24/5/2022).

Harga emas hitam untuk kontrak Juni 2022 tercatat merosot 1,94% menjadi USD413 per ton.

Selama 5 hari terakhir, harga batu bara tercatat mengalami kenaikan hingga 9,33%.

Sebelumnya, sepekan ke belakang, harga komoditas ini masih bertengger di bawah USD400 per ton.

 BACA JUGA:Pasokan Melimpah, Harga Batu Bara Acuan Turun USD12,76/Ton

Untuk kontrak Mei 2022 sendiri, harga batu bara tercatat USD 416 per ton, turun 0,3% dibanding perdagangan sebelumnya.

Sedangkan untuk kontrak Juli 2022 harganya USD383 per ton, turun 2,49%.

Pelemahan harga batu bara disebabkan oleh beberapa faktor.

Misalnya, permintaan batu bara di China menurun karena negara tersebut mulai memangkas konsumsi emas hitam.

Diketahui, China adalah konsumen batu bara terbesar dengan volume mencapai 4 miliar ton.

Presiden China XI Jinping mengatakan, hal ini dilakukan sebagai bentuk komitmen China untuk mendukung energi hijau.

"Kami akan membatasi penggunaan batu bara melalui periode 5 tahunan, yaitu 2021-2025 dan 2025-2030," ujar Xi Jinping, dikutip dari Reuters.

Lalu, harga baja yang mengalami penurunan juga mempengaruhi harga batu bara. Baja diproduksi menggunakan beberapa bahan baku salah satunya batu bara jenis kokas.

 BACA JUGA:Pasokan Melimpah, Harga Batu Bara Acuan Turun USD12,76/Ton

Sementara, pasokan baja di Eropa masih melimpah sehingga produksi diperkirakan akan menurun.

Selain itu, S&P Global menyebutkan permintaan batu bara di Pakistan juga menurun karena harga batu bara yang mahal.

Pabrik semen dan pabrik baja mengurangi kapasitas pembangkit batu baranya bahkan menutup pembangkit tersebut.

"Pakistan selama ini mengimpor 70% batu baranya dari Afrika Selatan, namun dalam beberapa bulan terakhir mereka tidak bisa melakukannya karena harganya terus naik," demikian dikutip dari S&P Global.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini