Share

Perang Rusia-Ukraina Bukan Penyebab Inflasi Perdagangan, Begini Penjelasan Mendag

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Rabu 25 Mei 2022 10:49 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 25 320 2599894 perang-rusia-ukraina-bukan-penyebab-inflasi-perdagangan-begini-penjelasan-mendag-7bjjcAYFqt.jpg Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi. (Foto: Kemendag)

JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, kejadian dunia yang sifatnya negatif dan insidentil seperti perang di Ukraina bukan menjadi penyebab terganggunya arus perdagangan komoditas yang menyebabkan inflasi tinggi, melainkan itu sebagai peringatan.

Hal itu dia sampaikan saat menjadi salah satu pembicara di panel diskusi bertema "Absorbing Commodity Shocks" World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Swiss.

"Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo sudah sejak lima tahun lalu menyatakan bahwa perdagangan komoditas dunia perlu ditata ulang. Karena struktur dan sistem yang dominan saat ini lebih banyak dampak buruknya dibandingkan manfaatnya. Khususnya bagi masyarakat di negara berkembang besar seperti Indonesia, Brazil, India dan China," kata Mendag Lutfi, Rabu (25/5/2022).

Menurut Lutfi, yang dibutuhkan adalah perubahan mentalitas dalam memandang perdagangan bebas dunia sebagai lokomotif yang tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor non ekonomi.

Konsep yang dikenal dengan ESG (environment, sustainability and governance) saat ini menjadi ukuran pertama dan utama bagi investor dalam menanamkan modalnya.

Konsep ESG adalah pembangunan ekonomi berbasis pemeliharaan lingkungan, pembangunan yang berkesinambungan dan tata kelola.

"Kami di Indonesia percaya bahwa komitmen penuh terhadap ESG menciptakan platform untuk membangun rasa saling membutuhkan dan saling percaya antara semua negara di dunia," ujarnya.

Dia menyebut tapi Indonesia tidak tinggal diam melihat beragam hambatan terhadap perdagangan dan perekonomian dunia.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN yang memiliki total populasi 600 juta orang, saat ini bersama 9 negara ASEAN lainnya berkomitmen penuh untuk menghilangkan kendala perdagangan antar negara ASEAN sebagai kontribusi nyata ASEAN dalam meringankan beban perekonomian dunia saat ini.

 BACA JUGA:Starbucks akan Tutup Permanen 130 Gerainya di Rusia Setelah 15 Tahun Beroperasi

Hal tersebut dilakukan sambil 10 negara ASEAN saling mendukung dalam menerapkan konsep ESG di masing-masing negara.

"Selanjutnya dengan komitmen penuh ASEAN dalam penerapan ESG, kami berharap perekonomian ASEAN bisa semakin terintegrasi ke dalam rantai pasok utama dunia (main global supply chain)," tegas Lutfi.

Dia menambahkan ESG justru akan menjadi katalis sekaligus peluang untuk negara berkembang menjadi negara maju.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini