Share

Backlog Rumah Capai 12,75 Juta, Wapres Minta REI Percepat Pembangunan

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis · Rabu 25 Mei 2022 15:42 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 25 470 2600141 backlog-rumah-capai-12-75-juta-wapres-minta-rei-percepat-pembangunan-dZibEm9ncb.jpeg Wapres minta REI percepat program sejuta rumah (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Wakil Presiden Maruf Amin meminta DPP Real Estate Indonesia (REI) mempercepat pembangunan rumah untuk menekan angka backlog kepemilikan rumah. Saat ini terdapat 12,75 juta kekurangan rumah.

Menurutnya selain untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal layak bagi masyarakat, program tersebut juga mendorong usaha lain yang terkait dengan pembangunan rumah.

"Pemerintah mendorong pembangunan perumahan, mendukung bukan hanya untuk mengurangi backlog kekurangan perumahan, tapi juga punya multiplier effect, termasuk usaha masyarakat, seperti gorden, bata, dan pasir,” ujar Wapres dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu (25/5/2022).

Menurut Wapres sektor properti masih menunjukkan tren positif dibandingkan sektor lain. Untuk itu, ia menekankan, pembangunan satu juta rumah harus dioptimalkan.

“Pemerintah mendorong pembangunan satu juta rumah, hanya memang di pandemi ada penurunan tahun 2020-2021, tetapi masih positif dibanding sektor lain, ini harus didorong terus,” sambungnya.

Menjawab hal tersebut Ketua Umum DPP REI Paulus Totok Lusida mengungkapkan bahwa saat ini sektor perumahan masih menunjukkan hasil positif dibandingkan dengan sektor usaha lain meskipun sedikit melandai di tengah pandemi yang melanda.

“Program sejuta rumah yang sedang berjalan dan on the right tract, peningkatan selama pandemi sedikit melambat, tapi selama pandemi salah satu bidang usaha yang masih positif adalah di bidang properti, termasuk di bidang perumahan masyarakat berpenghasilan rendah,” sambung Totok.

Selain itu, Paulus menambahkan bahwa saat ini DPP REI sedang mendorong program untuk memudahkan masyarakat, khususnya pekerja untuk mendapatkan perumahan layak huni, khususnya apartemen dengan cara menyewa untuk kemudian memiliki (rent to own).

“Untuk apartemen kami sampaikan ada program rent to own, bukan masalah kejenuhan market, tapi kemampuan masyarakat untuk memiliki apartemen karena nilai bangunannya cukup mahal, sehingga dengan program ini menyewa dulu untuk memiliki kemudian,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini