Share

Biaya Kos hingga Sewa Rumah di Kota Besar Meroket, Cek Rinciannya

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Senin 06 Juni 2022 12:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 06 470 2606317 biaya-kos-hingga-sewa-rumah-di-kota-besar-meroket-cek-rinciannya-dskVnvaTOk.jpeg Harga Sewa Kos hingga Rumah (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pada awal 2022, Lauren Odioso yang berusia 25 tahun tinggal bersama tiga teman di flat dengan tiga kamar tidur di kawasan utara Manhattan, New York.

Namun ketika harga sewa flatnya melonjak April lalu, dari USD2.600 (Rp37 juta) per bulan menjadi USD5.200 (Rp75 juta), perempuan yang berprofesi sebagai aktor itu kesulitan membayar.

"Biaya sewa bulanan saya saat ini akan naik dari $866 (Rp12 juta) menjadi USD1.733 (Rp25 juta)- meningkat hampir USD900 (Rp13 juta)," ujarnya.

"Reaksi pertama saya adalah terkejut, lalu segera menyadari bahwa memperbarui sewa flat ini bukanlah pilihan yang bisa saya ambil. Saya merasa sangat marah dan tidak berdaya," kata Odioso.

Odioso selama ini juga bekerja sebagai barista di Starbucks selama pandemi Covid-19. Dia mengalami persoalan finansial jika hanya bekerja di industri jasa selama pandemi, terutama akibat kenaikan harga utilitas dan kehidupan sehari-hari di New York.

Dan Mei lalu, beban keuangannya menjadi terlalu berat. Dia meninggalkan New York, pindah bersama kekasihnya ke kota yang lebih murah, yaitu Cleveland, di negara bagian Ohio.

Situasi ini membuat ribuan penyewa terpojok. Banyak dari mereka hampir tidak mampu bertahan secara finansial.

Kondisi ini tidak hanya terbatas pada pusat metropolitan utama seperti New York. Di seluruh AS, harga sewa tempat tinggal naik 11,3% tahun lalu. Tren ini juga terjadi di banyak kota di seluruh dunia.

Tapi apa persoalan terbesar dari situasi ini? Para ahli khawatir kondisinya justru akan memburuk pada periode ke depan.

Sebuah pertaruhan

Ada beberapa alasan mengapa begitu banyak orang di seluruh dunia menghadapi persoalan akibat kenaikan biaya sewa tempat tinggal.

Di New York, London, dan kota-kota lain, banyak apartemen kosong saat penyewa mengakhiri masa sewa. Pada masa pandemi Covid-19, mereka memilih keluar dari aturan karantina wilayah menuju pinggiran kota yang lebih luas.

Populasi New York, misalnya, anjlok lebih dari 4% karena eksodus penduduk selama pandemi. Itu memicu penurunan harga sewa dan membuat tuan tanah berebut penyewa.

Pada akhir tahun 2020 dan awal 2021, banyak pemilik flat di New York menawarkan calon penyewa dengan berbagai keuntungan, dari pemotongan harga sewa bulanan, beberapa bulan gratis, hingga pembebasan biaya agen.

Beginilah cara Shea Long, seorang pengembang perangkat lunak, bertahan tanpa teman sekamar pada saat dia berusia 30 tahun.

Long pindah ke sebuah kamar tidur di tengah kota Manhattan awal tahun lalu. Dia membayar sewa USD2.150 (Rp31 juta) per bulan.

Long sadar, dia mendapat keuntungan dari gerakan para pemilik flat yang memberikan diskon di tengah pandemi demi mempertahankan penyewa pada eksodus keluar New York saat puncak pandemi Covid-19.

Pada April 2022, ketika Long masuk ke portal pembayaran online seperti biasa untuk mengirimkan uang sewa, sebuah pesan muncul: mulai Juni, dia wajib membayar sewa sebesar USD3.650 (Rp52 juta).

Harga sewa baru itu adalah kenyataan yang tentu saja tidak ingin dia hadapi. Meski begitu, Long merasa tidak punya pilihan selain bertahan, terutama setelah menghitung semua biaya pindah, uang jaminan baru, dan ongkos sewa bulan pertama.

Long juga ingin menghindar dari kecemasan yang intens akibat mencoba menemukan tempat tinggal baru yang tersedia. Jumlah flat yang tersedia di New York saat itu mencapai titik terendah sejak krisis keuangan tahun 2008.

"Melalui semua tekanan untuk pindah itu tidak layak dihadapi jika semua biaya itu hampir tidak lebih murah daripada kenaikan sewa 60%," katanya.

"Saat ini saya sedang mempertimbangkan untuk mencari teman sekamar lagi karena ini harga sewa ini menghabiskan tabungan pensiun saya yang berjumlah US$401.000 (sekitar Rp5,8 miliar)," ujar Long.

Kegundahan yang dihadapi Long dihadapi banyak warga New York, karena pindah ke flat yang lebih murah saat ini tidak sesederhana menjelajahi daftar properti yang disewakan.

Kondisi finansial dan logistik para penyewa kerap membuat mereka tidak dapat pindah, terutama jika tetap ingin tinggal di kawasan kota. Situasi itu menempatkan mereka pada posisi yang tak terhindarkan dan di luar kemampuan mereka.

Ini juga terjadi pada seorang penjualan berusia 29 tahun, Andy Ward. Dia pindah ke sebuah flat studio di kawasan Brooklyn tahun 2021. Dia harus membayar $2.100 per bulan (sekitar Rp30 juta), tapi mendapat satu bulan gratis sebagai insentif pandemi.

Namun pada April 2022, ketika mendapat email yang memintanya untuk menandatangani kontrak perpanjangan sewa, Ward disambut dengan berita bahwa dia sekarang harus membayar tambahan $400 (Rp5,7 juta) setiap bulan.

Sam Chandan, profesor keuangan di Universitas New York, sekaligus Direktur Center for Real Estate Finance Research, menyebut penyewa yang paling merasakan tekanan adalah mereka yang berada di perumahan tenaga kerja atau tempat tinggal terjangkau untuk guru, pemadam kebakaran, dan polisi.

Jadi mereka bukan cumatidak bisa tinggal di flat mereka saat ini, tapi mereka juga bisa dipindahkan ke luar kota. Di saat kehidupan kota besar selalu menguntungkan orang kaya, beberapa kalangan khawatir krisis ini dapat memaksa penyewa kelas pekerja keluar dari kota. Artinya, hanya kelas orang tertentu yang dapat tinggal di kota-kota besar.

Mereka tidak bergeming sama sekali'

Lonjakan sewa ini tidak seperti yang pernah dialami kota mana pun, termasuk New York, kata para ahli.

"Laju kenaikan sewa benar-benar melampaui apa pun yang telah kita lihat baru-baru ini," kata Chandan. "Dalam banyak kasus, harga sewa meningkat lebih cepat daripada rata-rata pendapatan keluarga," ucapnya.

Yang paling mendorong kenaikan itu, menurut Chandan, adalah semakin banyak orang yang berbondong-bondong kembali tinggal di kota-kota besar di seluruh dunia.

Contohnya, kata dia, lebih banyak orang pindah ke New York City sekarang daripada sebelum masa pandemi. Menurut pemerintah setempat, gedung perkantoran dan pembukaan kembali sekolah memainkan peran besar dalam perpindahan orang ke New York, seperti halnya dunia seni dan hiburan, seperti Broadway, yang bangkit kembali.

"Pendulum telah berayun. Kami beralih dari pertumbuhan sewa yang sangat kuat sebelum pandemi, kemudian menurun dan sekarang naik kembali," kata Chandan.

Penyewaan tempat tinggal telah kembali bertumbuh. Flat yang tersedia semakin sedikit dan persaingan mendapatkan tempat-tempat ini menajam. Tidak tersedia cukup ruang untuk dijelajahi. Rumah susun akan jatuh pergi ke penawar tertinggi dan tercepat.

Inflasi juga merupakan faktor, kata para ahli, karena fenomena ekonomi menaikkan harga rumah sehingga mencegah calon pemilik rumah untuk membeli rumah. Akibatnya, mereka tetap menyewa. Situasi ini menjaga ketersediaan flat yang disewakan tetap rendah dan harga sewa meninggi.

Dan sekarang, taktik biasa yang biasanya dimiliki penyewa untuk membuat kesepakatan dengan pemilik flat tidak benar-benar berlaku lagi.

"Dalam keadaan normal, pemilik akan selalu memilih untuk mempertahankan penyewa yang dapat dipercaya daripada membiarkan unit mereka kosong selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan dan melalui proses menemukan seseorang yang baru, dan berpotensi membayar broker untuk membantu mereka," kata Josh Clark, ekonom senior di Zillow, sebuah perusahaan listing real estate yang berbasis di AS.

"Namun sekarang, jika penyewa mereka saat ini tidak mampu atau mau membayar apa yang diminta pemilik, mereka tahu bahwa seseorang di luar sana akan bersedia menyewa. Kerja keras ekstra untuk menemukan penyewa baru tidak sia-sia," tuturnya.

Ketika Ward meminta saran tentang cara mengelola kenaikan sewa di grup Facebook Kota New York, dia mengatakan kebanyakan menyarankannya untuk mengajukan penawaran. Dia melakukannya, tapi tidak berdampak positif pada penawarannya terhadap pemilik flat.

"Mereka tidak terpengaruh sama sekali," katanya. Ketika Ward bertanya mengapa harga sewa naik begitu tinggi, pemilik flat berkata"alasan yang terus saya dapatkan hanya karena itu merupakan adalah biaya yang biasa ditawarkan di tempat lain," tuturnya.

Seperti Long, Ward telah mempertimbangkan biaya pindah dan biaya untuk bertahan dengan kenaikan harga sewa. Akhirnya dia memutuskan dia tidak punya pilihan selain tetap tinggal dan menghadapi kenaikan harga.

"Saya tidak punya uang untuk pindah. Saya seperti terjebak," ucapnya.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Dan sepertinya harga sewa akan terus naik. Perusahaan pinjaman hipotek AS, Fannie Mae, memperkirakan dalam survei Maret lalu bahwa 67% penyewa di AS akan terus menghadapi harga sewa yang meningkat pada tahun 2022.

Untuk melindungi penyewa, Chandan menyebut perlu banyak kebijakan yang harus diambil otoritas, meskipun sering kali sulit diambil.

Pemerintah Kota Berlin, misalnya, mengesahkan regulasi pada tahun 2020 yang membatasi sewa. Namun pengadilan tinggi Jerman dengan cepat membatalkan aturan itu setahun kemudian dan menganggap regulasi itu inkonstitusional.

Bagaimanapun, karena percaya ini adalah masalah penawaran dan permintaan, Chandan menyebut solusi lain yang mungkin diambil adalah mengubah semua ruang kantor kosong selama dua tahun menjadi tempat tinggal.

Walau langkah seperti itu mahal dan membutuhkan proses lama di kota-kota seperti New York, para peneliti memperkirakan hal itu dapat menciptakan lebih dari 14.000 tempat tinggal baru.

Otoritas New York telah mengambil tindakan serupa dengan mengosongkan kantor di Lower Manhattan pada setelah serangan teror di Menara Kembar tahun 2001.

Odioso, yang kini tinggal di Ohio, menyebut banyak orang yang dia kenal di New York menunggu persoalan harga sewa ini dipecahkan. Ini dilakukan oleh mereka yang belum terdampak masalah ini.

"Banyak teman dan rekan kerja saya mengalami hal yang sama, pindah dari Manhattan atau keluar dari New York," katanya.

"Teman-teman saya yang belum harus memperbarui sewa masih ingin mengetahui seberapa besar dampak itu kepada mereka," ucap Odioso.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini