Share

Kebijakan Baru Properti Australia, Pengusaha Properti Perlu Perhatikan Ini!

Bella Hariyani, Jurnalis · Selasa 21 Juni 2022 11:25 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 21 470 2615248 kebijakan-baru-properti-australia-pengusaha-properti-perlu-perhatikan-ini-VNiPwOylYN.jpg Kota Sydney Australia. (Foto: Okezone.com/Ausse Siiters)

JAKARTA - Kota Sydney, Australia, harus mempersiapkan banyak hal untuk mengejar kota-kota global lain di dunia dalam hal desain dan pengembangan kawasan yang berkelanjutan.

“Hasil dari Pemilihan Federal Australia baru-baru ini mengirimkan pesan yang jelas dari para pemilih bahwa perlu ada fokus yang jauh lebih besar pada konsep hijau dan berkelanjutan yang positif bagi lingkungan di semua bidang termasuk pengembangan properti,” ujar CEO Crown Group Iwan Sunito, dalam keterangannya, Selasa (21/6/2022).

“Hal ini sejalan dengan rencana pemerintah Australia untuk mencapai Net Zero Emissions pada tahun 2050,” sambung Iwan.

Baca Juga: Ekonomi RI Meningkat, Industri Properti Optimistis Pasar Tidak Wait and See

Rencana yang berbasis teknologi telah menetapkan jalur yang kredibel untuk mencapai net zero pada 2050, sambil melestarikan industri yang ada, menjadikan Australia sebagai pemimpin dalam teknologi rendah emisi.

Rencana tersebut didasarkan pada kebijakan yang ada dan akan dipandu oleh lima prinsip yang akan memastikan peralihan Australia ke net zero economy tidak akan mengancam industri, wilayah, atau pekerjaan yang sudah ada sebelumnya.

Berbicara tentang migrasi, Iwan Sunito setuju dengan sikap Dewan Bisnis Australia, menyerukan kepada Pemerintahan Albanese untuk meningkatkan jumlah migran yang masuk ke Australia yang dapat membantu pemulihan ekonomi Australia.

Baca Juga: 5 Daerah di Indonesia dengan Potensi Harga Rumah Murah, Nomor 1 Menarik

“Migrasi turun selama pandemi dan saat ini dibatasi pada 160.000 jiwa. Business Council of Australia ingin meningkatkan Batasan tersebut menjadi 220.000 jiwa pada tahun 2022-23 dan 2024, dan kemudian kembal lagi ke 190.000 jiwa,” ujarnya.

Dampak penutupan perbatasan internasional terkait pandemi Covid-19 mengakibatkan penurunan jumlah migrasi selama enam kuartal secara berturut-turut. Pertumbuhan penduduk selama 12 bulan terakhir sepenuhnya disebabkan oleh peningkatan alami (penambahan 136.200 jiwa), sementara migrasi dari luar negeri negatif (berkurang 67.300 jiwa) selama periode tersebut.

“Hal ini juga berdampak pada jumlah tenaga kerja di Australia”

“Oleh karena itu, pemerintah Australia telah mengeluarkan kebijakan pelonggaran jumlah waktu kerja bagi mahasiswa asing yang sebelumnya dibatasi hanya 20 jam seminggu,” ujarnya.

Langkah ini akan berlaku segera untuk semua siswa saat ini sudah berada di Australia ataupun yang baru akan tiba, termasuk mereka yang baru mengajukan izin kerja siswa baru. Para pelajar tesebut bahkan dapat bekerja sebelum program studi mereka dimulai. Mereka juga akan dapat bekerja lebih dari 40 jam setiap dua minggu di sektor ekonomi mana pun.

Berdasarkan Biro Statistik Australia, pada akhir Juni 2019, 88.740 orang kelahiran Indonesia tinggal di Australia, 29,4% lebih banyak dari jumlah (68.570) pada 30 Juni 2009. Ini adalah salah satu komunitas migran terbesar di Australia, setara dengan 1,2% komunitas migran Australia dan 0,3% dari total populasi Australia.

“Sementara jumlah mahasiswa Indonesia di Australia yang tercatat per tanggal 28 Juni 2021 yakni sebanyak 12.645 mahasiswa.

Ini menempatkan Indonesia di peringkat 6 jumlah mahasiswa asing terbanyak di Australia setelah Tiongkok, India, Nepal, Vietnam dan Malaysia.”

“Di sinilah terlihat posisi strategis Indonesia” ungkap Iwan Sunito.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini