Share

BI Ramal Ekonomi Global Turun Jadi 3,0% Tahun Ini

Michelle Natalia, Jurnalis · Kamis 23 Juni 2022 15:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 23 320 2616864 bi-ramal-ekonomi-global-turun-jadi-3-0-tahun-ini-Xm7gA8d6Zy.JPG Ilustrasi ekonomi RI. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Dengan situasi ketidakpastian global saat ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan pertumbuhan ekonomi global dapat turun menjadi 3,0% pada tahun 2022 meskipun akan naik kembali di tahun 2023 menjadi 3,3%.

Dia menyebut kondisi yang terjadi di global perlu dicermati, diantisipasi, dan ditempuh langkah-langkah bersama, yaitu risiko-risiko terjadinya stagnasi pertumbuhan ekonomi global, dan meningkatnya inflasi pada saat yang sama.

Setidaknya ada tiga faktor utama yang menyebabkan risiko-risiko tersebut di skala global dan terjadi di berbagai negara.

 BACA JUGA:Bank Indonesia Tak Ingin Buru-Buru Tingkatkan Suku Bunga Acuan

"Yang pertama adalah risiko terkait ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina dan juga termasuk pengenaan sanksinya yang mengganggu pasokan energi dan pangan global serta gangguan mata rantai pasokan global. Ini yang kemudian menyebabkan tingginya harga-harga komoditas, energi, maupun harga pangan global," ujar Perry dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis(23/6/2022).

Harga minyak pada tahun ini diperkirakan bisa mencapai rata-rata USD103 per barel.

Demikian juga harga pangan juga meningkat tinggi.

Ini yang kemudian menimbulkan, dari sisi pasokan, risiko perlambatan ekonomi global, dan dari sisi kenaikan harga menimbulkan risiko dan terjadinya kenaikan inflasi di berbagai belahan dunia.

"Faktor kedua adalah pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS), dan di berbagai negara maju. Pengetatan moneter ditempuh oleh bank-bank sentral terutama di negara-negara yang pertumbuhan ekonominya terus meningkat seperti di AS, dan atau di negara-negara yang karena inflasinya tinggi, disebabkan karena tidak adanya ruang fiskal atau menaikkan subsidi di negara-negara tersebut," jelasnya.

Tidak adanya ruang fiskal bagi negara menyebabkan kenaikan harga komoditas global berdampak pada meningkatnya harga-harga di dalam negeri.

Bukan hanya The Fed AS, tapi beberapa bank sentral lain di Brazil. India, Malaysia, maupun di sejumlah negara lain juga menaikkan suku bunga.

"Kenaikan suku bunga tentu saja menurunkan permintaan dan juga menurunkan pertumbuhan ekonomi," tambahnya.

Faktor ketiga adalah situasi di China karena adanya kenaikan kasus dan kebijakan Zero COVID-19 yang menyebabkan terjadi perlambatan ekonomi di sana.

"Seluruh faktor-faktor ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi global berisiko terkontraksi," pungkasnya,

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini