Share

Sri Mulyani Khawatir Gejolak Ekonomi Dunia Lemahkan Rupiah

Anggie Ariesta, Jurnalis · Kamis 23 Juni 2022 17:39 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 23 320 2617015 sri-mulyani-khawatir-gejolak-ekonomi-dunia-lemahkan-rupiah-DbO8ORAjYH.jpg Sri Mulyani khawatir rupiah melemah (Foto: Okezone)

JAKARTA – Ekonomi dunia menghadapi ketidakpastian usai beberapa bank sentral dunia menaikkan suku bunga. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan bahwa pasar keuangan Indonesia terdampak normalisasi kebijakan moneter global.

Adapun tekanan tersebut berasal dari jelang pengumuman FOMC Meeting Federal Reserve pada 15 Juni lalu, namun membaik pasca pengumuman. Sri Mulyani menyebut isu terkait inflasi dan pengetatan kebijakan moneter akan menimbulkan gejolak yang cukup tinggi di pasar keuangan. Situasi ini dikhawatirkan mempengaruhi laju rupiah.

"Kita harus mewaspadai karena sekarang risiko bergeser dengan adanya inflasi, kenaikan suku bunga dan likuiditas, maka risiko di sektor keuangan menjadi meningkat," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis (23/6/2022).

Sri Mulyani mengatakan, nilai tukar rupiah memang mengalami depresiasi dalam beberapa waktu terakhir. Namun, depresiasinya jauh lebih baik dibandingkan negara-negara setara alias peers.

"Filipina 6,4%, India 5%, Malaysia 5,5%, Thailand 6,3%, Turki outliers 30% mereka mengalami penurunan local currency. Ini akan menjadi tren yang harus diwaspadai, monetary policy akan cenderung makin ketat," jelasnya.

Berdasarkan catatan Sri Mulyani, suku bunga AS saat ini mulai meningkat dan membuat para investor menempatkan dananya di aset yang lebih aman. Dengan demikian, terjadi capital outflow atau arus modal keluar sebesar Rp 36,6 triliun.

Sri Mulyani mengatakan, komposisi aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik berasal dari pemegang surat utang. Hal ini tentu akan berdampak langsung terhadap nilai tukar rupiah.

"Yield surat berharga local currency untuk 10 tahun di level 7,7%. Kalau dibandingkan yield US Treasury 10 tahun ini naik drastis, namun trennya ke atas," jelasnya.

Untuk Indonesia, lanjut Sri Mulyani, bond 10 tahun kenaikan yield 17,4% dan kalau dibandingkan negara lain relatif baik karena negara lain koreksi yield dari year to date mereka.

"Indonesia 17,4% sejak awal tahun hingga hari ini, Meksiko 22%, Filipina 24%, namun Amerika yield 10 tahun melonjak 116%," imbuh Sri Mulyani.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini