Share

Pasokan Gas dari Rusia Menipis, Jerman Bakal Alami Krisis?

Michelle Natalia, Jurnalis · Sabtu 25 Juni 2022 18:50 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 25 320 2618213 pasokan-gas-dari-rusia-menipis-jerman-bakal-alami-krisis-yntEI8ak0Q.jpg Ilustrasi gas. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck menyebutkan bahwa Jerman tengah menuju krisis gas jika pasokan yang diberikan Rusia serendah sekarang.

Rendahnya pasokan tersebut bisa menyebabkan kelumpuhan besar dalam industri di negaranya.

Dikhawatirkan, angka kemiskinan di Jerman bisa melonjak jika kondisi ini terus berlangsung.

"Perusahaan harus menghentikan produksi, memberhentikan pekerja mereka, rantai pasokan akan runtuh, orang akan berhutang untuk membayar tagihan pemanas mereka, bahwa orang akan menjadi lebih miskin," ujar Habeck kepada media Jerman, Der Spiegel dikutip Sabtu (25/6/2022).

 BACA JUGA:Beralih ke Energi Terbarukan, Jerman Tak Lagi Pakai Batu Bara pada 2030

Sejauh ini, Jerman menggantungkan hampir 40% pasokan gasnya pada Rusia.

Gas itu dialiri melalui pipa Nord Stream I.

Di kondisi sekarang, Rusia mengatakan bahwa turbin yang digunakan untuk memompa gas di pipa itu sedang dalam perbaikan di Kanada. Hal ini kemudian memicu pemotongan pasokan, bukan hanya ke Jerman, namun juga ke seluruh Eropa.

Jerman menentang aksi Moskow dalam menyerbu Ukraina dan bahkan memberikan bantuan persenjataan pada Kyiv.

"Ini adalah tempat berkembang biak terbaik bagi populisme, yang dimaksudkan untuk melemahkan demokrasi liberal kita dari dalam," tambahnya seraya menambahkan bahwa rencana Putin tidak boleh dibiarkan berhasil. Dalam mitigasi krisis, Jerman memiliki tiga fase darurat energi. Fase pertama sudah diumumkan 30 Maret lalu, sebulan setelah Rusia menyerang Ukraina," ungkapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan energinya, Jerman juga telah menghidupkan kembali PLTU batu bara. Meski di 2030 negara itu berencana menghapus sumber energi paling intensif karbon itu.

Sementara itu, wilayah Eropa juga tengah getol mencari sumber lain berupa LNG. Sejumlah negara dibidik termasuk Amerika Serikat (AS) dan Qatar.

Habeck menuduh aksi pemotongan ini merupakan manuver yang disengaja oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.

Jerman menentang aksi Moskow dalam menyerbu Ukraina dan bahkan memberikan bantuan persenjataan pada Kyiv.

"Ini adalah tempat berkembang biak terbaik bagi populisme, yang dimaksudkan untuk melemahkan demokrasi liberal kita dari dalam," tambahnya seraya menambahkan bahwa rencana Putin tidak boleh dibiarkan berhasil. Dalam mitigasi krisis, Jerman memiliki tiga fase darurat energi. Fase pertama sudah diumumkan 30 Maret lalu, sebulan setelah Rusia menyerang Ukraina," ungkapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan energinya, Jerman juga telah menghidupkan kembali PLTU batu bara. Meski di 2030 negara itu berencana menghapus sumber energi paling intensif karbon itu.

Sementara itu, wilayah Eropa juga tengah getol mencari sumber lain berupa LNG. Sejumlah negara dibidik termasuk Amerika Serikat (AS) dan Qatar.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini