Share

IHSG Diprediksi Finish di Level 7.800 pada Akhir 2022

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Senin 27 Juni 2022 16:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 27 278 2619077 ihsg-diprediksi-finish-di-level-7-800-pada-akhir-2022-iN2IBjnfLm.jpg IHSG akhir tahun capai 7.800 (Foto: Okezone)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi mencapai level 7.800 di akhir tahun 2022. Didukung oleh pertumbuhan Earning per Share (EPS/laba bersih dibagi jumlah saham beredar sebuah perusahaan) yang di atas 20%.

“Selain itu, pemulihan pandemi Covid-19 yang semakin baik menuju endemi, serta commodity boom yang diharapkan dapat berujung kepada peningkatan konsumsi, sehingga memicu terjadinya capex cycle dan labor rehiring pada semester II 2022,” kata Head of Equity Analyst Mandiri Sekuritas Adrian Joezer.

Hal yang juga penting, lanjutnya adalah faktor ketahanan ekonomi Indonesia terhadap external risks; seperti neraca perdagangan kuat, external debt to GDP sehat, kondisi likuiditas domestik yang baik, dan juga tingkat inflasi yang masih terjaga meskipun dalam pergerakan yang naik. Laba operasional perusahaan tumbuh sebesar 40% year-on-year pada kuartal I 2022.

Menurutnya, kinerja yang sudah sangat baik ini mengidikasikan bahwa kinerja di kuartal II 2022 akan lebih baik, terutama mempertimbangkan data selama Ramadan. Volatilitas global diproyeksikan masih terus berlangsung, namun dengan valuasi saham yang tidak terlalu mahal, pertumbuhan EPS yang tinggi, kondisi likuiditas domestik yang kuat didukung oleh neraca perdagangan yang positive, serta real yield yang masih positif dan tinggi relative ke negara-negara lain, membuat Indonesia lebih resilient menghadapi risiko eksternal.

Sementara pasar obligasi Indonesia juga mengalami kenaikan yield akibat foreign fund outflow di tengah ketidakpastian perekonomian dunia,. Namun dukungan investor domestik untuk obligasi pemerintah yang tinggi membuat pasar obligasi Indonesia cukup resilient, dimana kenaikan yield obligasi pemerintah Indonesia relatif lebih kecil dibandingkan negara-negara emerging market lainnya.

Kata Handy Yunianto, Head of Fixed Income Analyst Mandiri Sekuritas, dukungan investor domestik kepada obligasi pemerintah akan terus solid karena faktor likuiditas rupiah yang masih melimpah.

“Secara umum, terjadi pertumbuhan pada kredit perbankan sebesar ±9%, namun Dana Pihak Ketiga (DPK) berupa tabungan, giro, dan deposito juga mengalami kenaikan yang lebih tinggi yakni ±10%. Hal ini menyebabkan tren loan-to-deposit ratio perbankan terus menurun, yang berarti sistem perbankan Indonesia memiliki likuiditas yang memadai. Dampaknya suku bunga deposito terus mengalami penurunan, sehingga selisih antara bunga depoito dan yield SUN semakin melebar,” jelasnya.

Menurut Handy, kondisi ini membuat dukungan investor domestik terhadap obligasi pemerintah Indonesia akan terus berlanjut. Disampaikannya, diversifikasi portofolio investasi menjadi sangat penting, dan obligasi menjadi instrumen yang menarik karena memberikan cash flow kupon yang pasti, dengan tingkat imbal hasil yang masih menarik dan nilai pokok investasinya akan kembali lagi pada saat jatuh tempo.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini