Share

Krisis Sri Lanka, Sekolah dan Kantor Ditutup Imbas Bensin Habis

Zuhirna Wulan Dilla, Jurnalis · Rabu 29 Juni 2022 16:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 29 320 2620507 krisis-sri-lanka-sekolah-dan-kantor-ditutup-imbas-bensin-habis-ePKq5jE0m9.JPG Sri Lanka bangkrut. (Foto: India Times)

JAKARTA - Di tengah kekurangan bahan bakar yang parah, sekolah dan kantor pemerintah di kota-kota besar Sri Lanka ditutup.

Dikutip dari India Times, negara yang dilanda krisis ini terus mengalami berbagai macam gejolak. Bahkan, kekurangan pasokan pangan sudah terjadi di sana.

Menurut AFP, pihak berwenang Sri Lanka pada mengumumkan penutupan dua minggu sekolah tersebut karena transportasi umum tak bisa beli BBM.

 BACA JUGA:Dubes RI: WNI di Sri Lanka Sepakat Evakuasi Bukan Pilihan

Banyak jalan di ibu kota Kolombo yang sebelumnya ramai telah sepi.

Angkatan bersenjata berjaga-jaga di pom bensin saat barisan kendaraan memanjang bermil-mil.

Penantian selama berjam-jam telah menyebabkan kebuntuan yang tegang dan konfrontasi kekerasan dalam beberapa hari terakhir antara warga Sri Lanka yang frustrasi dan pasukan keamanan.

Adapun seorang pengemudi becak bernama Chandima Madusanka di Kolombo mengatakan kalau dia menunggu dua hari untuk mendapatkan tujuh liter bensin, yang diperkirakan hanya akan bertahan sehari.

Dia mengatakan menjadi tidak mungkin untuk memberi makan keluarganya.

“Bagaimana kita bisa hidup seperti ini?" ucapnya dengan emosi yang memuncak.

Diketahui, hidup telah menjadi perjuangan sehari-hari bagi banyak orang di negara kepulauan berpenduduk sekitar 22 juta orang ini, karena mengalami krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade.

Inflasi makanan dilaporkan mencapai 57% bulan lalu, dan survei terbaru oleh Program Pangan Dunia yang dilakukan di 17 dari 25 kabupaten menemukan bahwa sebagian besar keluarga merasakan dampak kelaparan.

"Bendera merah besar" ditemukan di antara orang miskin, yang terpaksa "melewatkan makan, makan makanan yang jauh lebih kecil atau membeli makanan murah yang tidak bergizi," kata Anthea Webb, wakil direktur regional WFP untuk Asia dan Pasifik, seperti laporan.

Petugas kebersihan bernama Lalitha Jayasundara menyebut bertahan hidup setiap hari adalah perjuangan.

Warga lain bernama Akalanka Punchihewa juga mengaku kehilangan pekerjaan pengiriman makanannya baru-baru ini setelah restoran tempat dia bekerja tutup.

Dia memiliki anak kecil dan orang tua yang sakit tetapi tidak ada cara untuk menafkahi mereka, kata laporan itu.

“Kami memasak dengan kayu bakar dan harus berhenti memberikan susu kepada anak kami,” ungkapnya.

“Kami tidak mampu membayar harga ini," pungkasnya.

Terlepas dari bantuan dari negara-negara tetangga termasuk India, kurangnya cadangan devisa dan harga pangan global yang tinggi telah menyulitkan pemerintah untuk mengimpor barang-barang penting.

Sementara inflasi yang tak terkendali dan pengangguran yang meluas membuat sebagian besar keluarga tidak mampu membeli apa yang ada.

Dalam sebuah pernyataan blak-blakan, menteri energi Sri Lanka dilaporkan telah meminta masyarakat menahan diri dari antrean bensin selama tiga hari ke depan.

Pihak berwenang mengumumkan pekan lalu bahwa pekerja pemerintah, kecuali mereka yang berada di bidang penting seperti perawatan kesehatan, akan bekerja dari rumah.

Ini terjadi karena mereka kekurangan bahan bakar saat ini dan masalah di fasilitas transportasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini