Share

Harga Minyak Turun karena Produksi BBM AS Meningkat

Antara, Jurnalis · Kamis 30 Juni 2022 08:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 30 320 2620781 harga-minyak-turun-karena-produksi-bbm-as-meningkat-uPIui2kpdo.jpg Stok dan Produksi Bahan Bakar AS Meningkat. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Harga minyak turun lagi hingga 2% pada akhir perdagangan Rabu. Harga minyak turun karena kenaikan persediaan bensin dan sulingan di AS.

Selain itu, kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat di seluruh dunia mengimbangi kekhawatiran yang sedang berlangsung tentang pasokan minyak mentah yang lebih ketat.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus melemah USD1,72 atau 1,5% menjadi USD116,26 per barel. Kontrak Agustus akan berakhir pada Kamis dan kontrak September yang lebih aktif turun USD1,35 menjadi USD112,45 per barel.

Baca Juga: Harga Minyak Naik 2% di Tengah Penurunan Produksi Libya

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus terpangkas USD1,98 atau 1,8% menjadi USD109,78 per barel.

Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan, persediaan minyak mentah AS turun pekan lalu ketika produksi mencapai level tertinggi sejak April 2020 selama gelombang pertama pandemi virus corona. Stok bahan bakar naik karena kilang meningkatkan aktivitas, beroperasi pada 95% dari kapasitas, tertinggi untuk tahun ini dalam empat tahun.

Baca Juga: Harga Minyak Brent dan WTI Naik Sikapi Hasil KTT G7

"Laporan EIA meredam pasar. Kenaikan persediaan bensin dan sulingan sedikit mengurangi tekanan dan kenaikan produksi AS juga menjadi faktor penurunan harga," kata Mitra Again Capital LLC, John Kilduff, dikutip dari Antara, Rabu (30/6/2022).

Kenaikan persediaan tersebut menyebabkan bensin dan sulingan berjangka AS turun masing-masing sekitar 3,0 persen dan 4,0 persen. Pedagang mengatakan minyak mentah berjangka mengikuti harga bahan bakar yang lebih rendah.

Juga memberi tekanan pada minyak adalah kenaikan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang lainnya ke level tertinggi sejak mencapai level tertinggi 19 tahun pada pertengahan Juni. Dolar yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Brent dan WTI naik sekitar 7,0% selama tiga sesi sebelumnya di tengah kekhawatiran tentang ketatnya pasokan, sebagian karena sanksi Barat terhadap Rusia.

"Mengingat bahwa hampir seperlima dari kapasitas produksi minyak global saat ini berada di bawah beberapa bentuk sanksi (Iran, Venezuela, Rusia), kami percaya tidak ada cara praktis untuk menjaga barel ini keluar dari pasar yang sudah sangat ketat," JP Morgan mengatakan dalam sebuah catatan penelitian.

Tetapi investor juga khawatir bahwa ekonomi yang melambat dapat mengurangi permintaan energi karena bank sentral menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini