Share

Mengulik Sejarah Hero Jadi Supermarket Pertama di Indonesia, Begini Kisahnya

Cita Zenitha, Jurnalis · Kamis 21 Juli 2022 08:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 21 455 2633450 mengulik-sejarah-hero-jadi-supermarket-pertama-di-indonesia-begini-kisahnya-3aR25lfJHm.JPG Hero. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Sejarah supermarket Hero tak lepas dari awal mula berkembangnya supermarket di Indonesia.

Meski Hero telah menutup banyak outletnya mulai dari tahun 2018, perusahaan ini telah menjadi inspirasi berdirinya banyak ritel lainnya.

Lalu seperti apa sejarah supermarket Hero?

 BACA JUGA:KKP Pakai Konsep Fisheries Refugia untuk Tata Kelola Perikanan, Apa Itu?

Semua bermula dari kegemaran masyarakat Indonesia yang berbelanja berbagai kebutuhan hidup sampai pergi ke Singapura.

Saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa dikatakan begitu pesat.

Kesempatan ini dilihat dan dimanfaatkan oleh Muhammad Saleh Kurnia atau MS Kurnia dan sang istri Nurhajati Kurnia.

Mereka memutuskan untuk membuka perusahaan ritel serupa seperti di Singapura sehingga masyarakat Indonesia tak perlu jauh-jauh untuk membeli kebutuhan hidupnya.

Akhirnya keduanya memutuskan tebang langsung ke Singapura untuk mengamati dan belajar langsung tentang Industri ritel.

MS Kurnia dan istrinya mendatangi supermarket modern di Singapura untuk segera membukanya di Indonesia.

Hero menyediakan berbagai kebutuhan lokal dan impor untuk masyarakat Indonesia.

Sejarah Supermarket Hero

Muhammad Saleh Kurnia lahir di Sukabumi pada 1 Desember 1934, dia menghabiskan masa kecil yang penuh kesulitan dengan membantu keluarganya.

Berkat kegigihan dan perjuangan hidupnya pada 23 Agustus 1971, dia resmi membuka Hero Minimarket yang saat itu berlokasi di Jalan Falatehan Nomor 23, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pada permulaan bisnisnya Kurnia mengalami banyak sekali kesulitan akibat kurangnya pengalaman.

Makanan banyak yang tak habis terjual dan akhirnya terbuang percuma.

Dari situ Kurnia mulai belajar pengelolaan gudang bahan pangan dan mengatur jam kerja pegawainya.

Selain itu, dia juga mengatur waktu buka toko dimana pada hari Minggu seluruh toko tutup tetapi Hero tetap buka.

Hal ini mendapat sambutan baik dari masyarakat dan membuat Hero terus berkembang pesat.

Kesuksesan yang diraih Kurnia tidak lepas dari pengaturan waktu, kelancaran ekonomi serta dukungan dari kerabat.

Melihat perkembangannya, saham (IPO) Hero terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan kode HERO.

Tahun 2018 aset Hero sudah mencapai Rp7,84 triliun. Setelah pendirinya wafat pada 10 Mei 1992, bisnis ritel terbesar ini beralih ke tangan pewarisnya yaitu Ipung Kurnia. Awalnya tahun 1989-1992, Ipung menjadi direktur. Tahun 1992-2008, dia menjadi direktur utama.

Sebagai pewaris Ipung meluaskan cakupan bisnis Hero menjadi Giant, IKEA (perabotan rumah) dan Guardian (toko obat).

Setelah beberapa kali berganti kepemilikan, Hero menutup total 26 toko ritel karena penjualan ritel yang buruk dalam beberapa minggu terakhir bulan Januari. Sekitar 532 karyawan telah diberhentikan.

Ini adalah berita buruk jika bisnis ritel tradisional menurun dan bisnis e-commerce mengambil alih.

Penutupan ini tidak mengherankan karena PT Mitra Adi Perkasa Tbk (MAPI) telah menutup department store Lotus dan Debenhams pada tahun 2017.

Begitu pula dengan PT Modern Internasional Tbk (MDRN) yang menutup gerai Seven-Eleven di Indonesia.

Penurunan bisnis supermarket Hero kini dibantali IKEA dan Guardian sehingga tidak terlalu merosot.

Sebab menurut manajerial Hero, bisnis non makanan kini memang sedang diminati dan mampu menutupi kerugian yang dialami.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini