Share

Indonesia Optimistis Bertahan Menghadapi Tekanan Resesi Global

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis · Jum'at 05 Agustus 2022 10:43 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 05 320 2642451 indonesia-optimistis-bertahan-menghadapi-tekanan-resesi-global-aogrHnc3SJ.jpg Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo (Foto: Okezone/MNC Group)

JAKARTA - Indonesia yakin mampu bertahan di tengah tekanan resesi global. Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tren positif dengan berbagai kebijakan penting yang diambil pemerintah.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara pada MNC Forum LXV (65th) yang mengangkat tema "Indonesia Economic Outlook 2022-2023 & Corporate Business Update" yang diselenggrakan secara virtual di Jakarta, Kamis (4/8/2022). 

MNC Forum juga menghadirkan Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo bersama dan Head of Macro Economic & Financial Policies at Prospera Anton Hermanto Gunawan sebagai narasumber.

“Manager Forum ke-65, yang dihadiri lebih dari 1.100 manager dan up MNC. Pembicara termasuk Bapak Suahasil Nazara, Wakil Menteri Keuangan Indonesia dengan topik Outlook Masa Depan Ekonomi Indonesia. Terima kasih Pak Suahasil untuk hindsights-nya,”ujar Hary, Jumat (05/082022).

Menurut Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara , saat ini pemulihan ekonomi memberi tantangan baru bagi banyak negara termasuk Indonesia. Jika setahun lalu negara-negara menghadapi risiko akibat pandemi, sekarang bergeser menjadi risiko tekanan ekonomi global karena ada tekanan inflasi akibat banyak faktor, seperti kurangnya suplai dan perang.

“Ini double pressure sehingga banyak negara mengambil sikap dengan menaikkan suku bunga. Tapi ketika kebijakan moneter ketat, maka akan terjadi turbulensi. Ekonomi negara yang tidak mampu akan goyah. Apalagi kalau tekanan inflasi global berkepanjangan sehingga ekonomi melemah. Saat ini ekonomi AS tumbuh negatif, Tiongkok sudah 0,4%, padahal selama ini double digit," ungkapnya pada acara MNC Forum LXV secara daring, Kamis (04/08/2022).

Situasi yang saat ini terjadi, menyebabkan harga komoditas naik atau turun secara cepat seperti harga gas, batu bara, minyak dunia, CPO, gandum, kedelai, dan lainnya. Belum lagi tekanan inflasi di AS akan memaksa The Fed menaikkan suku bunga. Kenaikan suku bunga diperkirakan akan menimbulkan turbulensi.

"Fenomena ini yang harus disikapi tak hanya pemerintah, tapi dunia usaha. Indonesia beruntung ada tren peningkatan beberapa variabel ekonomi sejak bulan lalu. Pemulihan ekonomi terus berlangsung. PMI kita di atas 50 artinya terus bertumbuh. Tapi tetap harus waspada," jelasnya.

Bank Indonesia juga saat ini masih mempertahankan suku bunga. Dengan suku bunga saat ini dia berharap akan terus mendorong pemulihan ekonomi. Karena kenaikan suku bunga akan berdampak terhadap capital flow. Beberapa tren positif lainnya misalnya google mobilitas yang menunjukan angka cukup baik, impor bahan baku masih baik, konsumsi listrik double digit, kapasitas produksi manufaktur dan pertambangan masih 70%, artinya masih ada ruang untuk naik.

"Ini leading indikator yang diharapkan jadi basis Indonesia ke depan. Ekspor baik sekali, neraca perdagangan surplus. Tapi kita harus jaga dan waspada harga-harga, karena bisa naik dan turun sangat cepat," ujar dia.

Indonesia optimistis mampu bertahan, namun Indonesia juga dipastikan akan terpengaruh kondisi global. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia direvisi dari 5,4% menjadi 5,3%, atau turun 0,1%. Angka tersebut masih cukup baik, ketimbang revisi pertumbuhan ekonomi global yang cukup dalam dari 3,6% menjadi 3,2%. Tahun depan juga turun dari 3,6% jadi 2,9%.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini