Share

Indonesia Optimistis Bertahan di Tengah Gempuran Resesi Global

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis · Sabtu 06 Agustus 2022 10:29 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 06 320 2643043 indonesia-optimistis-bertahan-di-tengah-gempuran-resesi-global-E9i9LOAoBO.jpg Hary Tanoesoedibjo bicara dalam MNC Forum ke 65 (Foto: MNC Media)

JAKARTA - Indonesia mampu bertahan di tengah tekanan resesi global karena ekonomi Indonesia masih bertumbuh. Hal itu disampaikan pada MNC Forum LXV (ke-65) mengangkat tema "Indonesia Economic Outlook 2022-2023 & Corporate Business Update” pada 4 Agustus 2022.

MNC Forum LXV menghadirkan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Executive Chairman MNC Forum Hary Tanoesoedibjo (HT) serta Head of Macro Economic & Financial Policies at Prospera Anton Hermanto Gunawan sebagai narasumber. Acara yang diselenggrakan secara virtual itu dihadiri lebih dari 1.100 manager dan up MNC Group.

“Terima kasih kepada Wakil Menteri Keuangan Pak Suahasil Nazara telah menjadi pembicara dengan topic Indonesian Future Economic Outlook. Pak Suahasil luar biasa. Jelas sekali perspektif yang disampaikan baik yang terkini maupun tahun depan,” ujar Hary, Jumat (5/8/2022). “Kita lihat sekarang ini beberapa negara di dunia sudah mulai goyang.”

Hary optimistis dengan ekonomi Indonesia. “Karena kekuatan kita di resources dan domestik ekonomi kita cukup resilient. Saya menyimpulkan ekonomi Indonesia masih bertahan dengan baik, ada pertumbuhan. Ini memberikan optimisme bagi kita semua,” sambungnya.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan saat ini pemulihan ekonomi memberi tantangan baru bagi banyak negara termasuk Indonesia. Jika setahun lalu negara-negara menghadapi risiko akibat pandemi, sekarang bergeser menjadi risiko tekanan ekonomi global karena ada tekanan inflasi akibat banyak faktor, seperti kurangnya suplai dan perang.

“Ini double pressure sehingga banyak negara mengambil sikap dengan menaikkan suku bunga. Tapi ketika kebijakan moneter ketat, maka akan terjadi turbulensi. Ekonomi negara yang tidak mampu akan goyah. Apalagi kalau tekanan inflasi global berkepanjangan sehingga ekonomi melemah. Saat ini ekonomi AS tumbuh negatif, Tiongkok sudah 0,4%, padahal selama ini double digit," ungkapnya.

Situasi yang saat ini terjadi, menyebabkan harga komoditas naik atau turun secara cepat seperti harga gas, batu bara, minyak dunia, CPO, gandum, kedelai, dan lainnya. Belum lagi tekanan inflasi di AS akan memaksa The Fed menaikkan suku bunga. Kenaikan suku bunga diperkirakan akan menimbulkan turbulensi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini