Share

7 Fakta Mahalnya Harga Tiket Pesawat Saat Ini

Shelma Rachmahyanti, MNC Media · Selasa 09 Agustus 2022 20:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 09 320 2644855 7-fakta-mahalnya-harga-tiket-pesawat-saat-ini-usJW2xvqvM.jpg Tiket Pesawat Naik (Foto: Okezone)

JAKARTA - Tujuh fakta mahalnya harga tiket pesawat saat ini akan diulas dalam artikel ini. Mahalnya harga tiket pesawat belakangan ini tengah menjadi perbincangan di masyarakat.

Di mana, kenaikan harga tiket ini bukan hanya untuk rute domestik namun juga rute mancanegara. Kondisi ini membuat penumpang mengeluh.

Berikut tujuh fakta mahalnya harga tiket pesawat saat ini yang dirangkum di Jakarta, Selasa (9/8/2022).

1. Pemerintah Disarankan Kasih Insentif

Pemerintah disarankan memberi insentif untuk maskapai penerbangan di tengah mahalnya tiket pesawat. Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mendorong pemerintah untuk memberikan insentif kepada maskapai penerbangan yang melayani rute perintis.

Adapun dorongan pemberian insentif tersebut, untuk merespons aturan baru Kementerian Perhubungan soal Tarif Batas Atas (TBA) besaran biaya tambahan (Surcharge).

Tulus mengatakan bahwa saat ini kondisi maskapai penerbangan dalam kondisi yang sulit seiring dengan melambungnya harga avtur. Sehingga tidak ada pilihan lain, selain seleksi alam baik bagi maskapai maupun konsumen.

"Tetapi untuk rute perintis yang hanya udara sebagai satu satunya pilihan, maka pemerintah harus kasih insentif kepada maskapai," kata Tulus kepada MNC Portal, Selasa (9/8/2022).

"Tak mungkin biaya yang mahal tersebut dibebankan kepada konsumen atau maskapai. Harus ada subsidi atau dana Public Service Obligation (PSO) dari negara," tambahnya.

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Sehat 2025, Lifebuoy dan Halodoc Berkolaborasi Berikan Akses Layanan Kesehatan Gratis

2. Maskapai Penerbangan Diprediksi Bisa Bangkrut

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, jika tidak ada pemberian dana PSO yang cukup.

Maka maskapai penerbangan diprediksi akan mengalami kebangkrutan dan kondisi tersebut akan mengakibatkan masyarakat tidak dapat akses transportasi.

"Kalau tidak ada dana PSO yang cukup, maskapai ambruk dan masyarakat tak ada akses transportasi," katanya.

3. Pemerintah Merestui Kenaikan Harga Tiket Pesawat

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menetapkan KM 142 Tahun 2022 tentang Besaran Biaya Tambahan (Surcharge) Yang Disebabkan Adanya Fluktuasi Bahan Bakar (Fuel Surcharge) Tarif Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Adapun besaran biaya tambahan (surcharge) untuk pesawat udara jenis jet, paling tinggi 15% dari tarif batas atas sesuai kelompok pelayanan masing-masing maskapai. Sedangkan pesawat udara jenis propeller paling tinggi 25% dari tarif batas atas sesuai kelompok pelayanan masing-masing maskapai.

4. Respons Maskapai

Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia memastikan kepatuhannya terhadap ketentuan dan kebijakan harga tiket pesawat yang mengacu pada aturan tarif batas atas dan tarif batas bawah maupun kebijakan penunjang dalam kaitan komponen harga tiket.

"Kami memastikan senantiasa patuh terhadap ketentuan dan kebijakan harga tiket pesawat," kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dalam keterangan tertulisnya, mengutip Antara.

Garuda Indonesia kata dia, mengajak seluruh stakeholder penerbangan untuk bersama-sama fokus mengoptimalkan momentum pemulihan industri penerbangan maupun kebangkitan ekonomi nasional dengan terus memperkuat sinergitas dalam memaksimalkan aksesibilitas masyarakat terhadap layanan transportasi udara yang aman dan nyaman.

Menurutnya, perseroan melihat imbauan tersebut merupakan pengingat bagi seluruh pelaku industri layanan transportasi udara untuk menyelaraskan langkah akselerasi kinerja dengan tetap menjaga komitmen kepatuhan terhadap aturan bisnis penerbangan.

Hal itu termasuk mengenai penerapan komponen harga tiket mengacu pada ketentuan dan regulasi berlaku serta secara berkesinambungan terus meningkatkan layanan transportasi udara yang berkualitas bagi masyarakat.

"Kami percaya kesadaran atas pentingnya keselarasan upaya untuk tumbuh dan pulih bersama di tengah situasi pandemi yang berkepanjangan menjadi esensi penting guna memastikan ekosistem industri transportasi udara dapat terus bergerak maju memaksimalkan momentum pemulihan," terangnya.

"Oleh karenanya, kiranya komitmen ini yang harus terus dijaga oleh seluruh pihak," imbuhnya.

5. Penjelasan Pengusaha Travel

Harga tiket pesawat mengalami peningkatan utamanya penerbangan internasional. Jakarta-Singapura biasanya Rp3 juta sekarang naik jadi Rp10 juta.

Ketua Umum DPP Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno membeberkan alasan tiket pesawat yang mahal disebabkan salah satunya akibat dari kenaikan avtur, kurangnya penerbangan, demand masyarakat lebih tinggi dibanding supply.

β€œTak hanya itu, sekarang armada pesawat masih belum bisa beroperasi full post pandemic, masih banyak yang dalam proses maintenance, kekurangan sparepart, lack of staff, sehingga kurangnya penerbangan, demand masyarakat lebih tinggi dibanding supply,” urainya.

β€œKe depan kami berharap, maskapai dapat menambah frekuensi penerbangan ke Indonesia, karena harga tinggi ini bukan hanya dari Indonesia saja tapi juga dari luar negeri ke Indonesia,” tandasnya.

6. Maskapai Disarankan Sediakan Tiket Pesawat dengan Harga Terjangkau

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meminta maskapai untuk menyediakan tiket pesawat dengan harga terjangkau, meskipun saat ini terdapat aturan yang memungkinkan maskapai menerapkan tarif angkutan udara lebih tinggi, imbas dari lonjakan harga bahan bakar jenis avtur.

Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nur Isnin Istiartono mengatakan, saat ini daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi Covid-19.

Oleh karenanya, maskapai yang melayani rute penerbangan berjadwal dalam negeri diimbau untuk dapat menerapkan tarif penumpang yang lebih terjangkau oleh pengguna jasa penerbangan.

Menurut dia, dengan memberlakukan tarif penumpang yang terjangkau, tentunya akan menjaga konektifitas antar wilayah di Indonesia dan kontinuitas pelayanan jasa transportasi udara.

"Seperti kita ketahui, bahwa kemampuan daya beli masyarakat belum pulih akibat pandemi Covid-19 namun kebutuhan masyarakat akan transportasi udara tetap harus diperhatikan," ujar dia.

7. Pemberlakuan Tarif yang Terjangkau Disebut Bisa Tingkatkan Mobilitas Masyarakat

Pemberlakuan tarif yang terjangkau dinilai akan mendorong mobilitas masyarakat untuk melakukan perjalanan melalui transportasi udara, sehingga nantinya akan meningkatkan kapasitas dan produksi angkutan udara penumpang, kargo dan pos secara nasional.

"Secara tertulis, imbauan ini telah kami sampaikan kepada masing-masing Direktur Utama maskapai nasional, untuk dapat diterapkan di lapangan,” ujar Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nur Isnin Istiartono.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini