Share

Belum Ada Sinyal Resesi di Indonesia, Tapi...

Michelle Natalia, Sindonews · Rabu 10 Agustus 2022 17:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 10 320 2645533 belum-ada-sinyal-resesi-di-indonesia-tapi-viShhKb45c.JPG Ilustrasi resesi. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Ekonom sekaligus Direktur CELIOS Bhima Yudhistira buka suara terkait situasi resesi global.

Dia menyebut sejauh ini melihat pertumbuhan ekonomi kuartal ke II sebesar 5,44%, Indonesia belum dikategorikan masuk resesi ekonomi.

"Beberapa indikator ketahanan ekonomi Indonesia jauh lebih baik dari krisis subprime 2008 dan taper tantrum 2013, misalnya cadangan devisa cukup gemuk yakni USD132,2 miliar per akhir Juli 2022," ungkap Bhima kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Rabu(10/8/2022).

Ketahanan eksternal ditopang oleh windfall harga komoditas yang bantu jaga rupiah tidak terkoreksi sedalam negara peers.

 BACA JUGA:Di Tengah Resesi, Ternyata Ini yang Bikin IKM Mampu Berdiri

Tapi, dia mencatat indikator ketahanan tadi bisa dalam waktu cepat berubah, contohnya ketergantungan terhadap harga komoditas tentu cukup berisiko.

"Sekarang harga CPO dipasar internasional anjlok -8.68% dalam setahun terakhir menjadi 3.899 RM/ton (data per 5 Agustus 2022), kemudian nikel juga mulai alami koreksi dalam sebulan terakhir -1.97%. Artinya, menggantungkan ketahanan eksternal dengan fluktuasi harga komoditas sama dengan naik roller coaster tanpa sabuk pengaman," lanjutnya.

Dia mengatakan sekali harga komoditas anjlok, hilang pendapatan, devisa dan pertahanan ekonomi langsung melemah.

"Sudah terlihat bagaimana petani sawit sampai jual TBS-nya ke Malaysia karena harga di dalam negeri anjlok. Bagi pekerja tentu imbas nya biaya hidup semakin mahal, sementara upah hanya naik rata-rata 1%, mau cicilan motor dan rumah juga semakin mahal karena suku bunga otomatis naik," ucapnya.

Selain itu, banyak tekanan yang disebut sebagai cost of living crisis atau krisis biaya hidup.

Dalam jangka panjang, pekerja rentan bisa jatuh ke bawah garis kemiskinan meskipun seolah tetap aktif bekerja.

"Soal pangan Indonesia sebenarnya juga rapuh menurut data global Food Security Index 2021, Indonesia berada di posisi 69 dunia tertinggal dibanding negara tetangga ASEAN seperti Thailand, Vietnam dan Malaysia. Ada masalah serius soal keterjangkauan pangan bagi kelompok rentan," katanya.

Dia menjelaskan kalau yang harus diantisipasi dari efek resesi global, sambung Bhima, adalah pelemahan nilai tukar Rupiah, perlu direspon dengan kenaikan suku bunga acuan hingga 100 basis poin sampai akhir tahun.

Bauran kebijakan moneter dan fiskal sangat mendesak dilakukan, Bank Indonesia (BI) bisa dorong pengusaha ekspor lakukan konversi DHE ke Rupiah dan gunakan local currency settlement untuk lakukan ekspor.

Kemudian disarankan melakukan stress test secara berkala terhadap lembaga pembiayaan, asuransi, dan bank dalam konteks tekanan capital outflow dan tekanan likuiditas cukup ekstrem.

"Pemerintah tentunya harus jaga harga energi, daya beli masyarakat dan tetap memberikan perlindungan sosial sama besarnya dengan masa pandemi," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini