Share

Sri Mulyani Beberkan Tantangan Sektor Keuangan RI

Michelle Natalia, Sindonews · Jum'at 12 Agustus 2022 16:36 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 12 320 2646797 sri-mulyani-beberkan-tantangan-sektor-keuangan-ri-vKXeNMan3R.JPG Sri Mulyani. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa selain fiskal dan moneter, peran sektor keuangan sangat penting dalam menjaga stabilitas dan mendorong pemulihan ekonomi.

Sektor keuangan Indonesia memiliki peranan yang sangat penting seperti halnya sektor keuangan di berbagai perekonomian merupakan fungsi intermediasi.

Sehingga sangat penting dalam menghubungkan antara mereka yang memiliki dana dan mereka yang membutuhkan dana.

 BACA JUGA:Sri Mulyani: Pembiayaan Investasi Tembus Rp50 Triliun hingga Juli 2022

"Namun, sektor keuangan Indonesia masih dihadapkan pada beberapa tantangan. Pertama kalau kita lihat, ukuran dari sektor keuangan Indonesia terhadap perekonomian kita masih relatif kecil, bahkan kalau kita bandingkan dengan negara-negara di ASEAN. Kita lihat kapitalisasi pasar modal di Indonesia hanya 48%, sementara negara-negara sekitar kita yang lebih maju seperti Malaysia dan Thailand, atau bahkan Singapura dan Filipina, mereka memiliki rasio kapitalisasi pasar modal yang hampir mencapai 100%," ujar Sri dalam webinar LIKE IT: Sustain Habit in Investing, Invest in Sustainable Instruments di Jakarta, Jumat(12/8/2022).

Dia menyebutkan, ini artinya Indonesia memiliki peluang untuk terus meningkatkan peranan pasar modal sebagai salah satu sektor keuangan yang bisa menjadi intermediary yang baik dan produktif.

Kedua, sektor keuangan di Indonesia masih berorientasi pada akumulasi dana yang sifatnya jangka pendek.

Ini sangat menyulitkan saat kebutuhan pembangunan dan perekonomian sering membutuhkan sumber dana yang berasal dari sumber dana yang jangka panjang.

Baca Juga: Presiden Jokowi Sebut Sistem Penyaluran BLT BBM yang Dijalankan Sudah Bagus

Misalnya untuk pembangunan infrastruktur yang biasanya membutuhkan dana yang sangat besar dan kemampuan untuk mengembalikannya juga membutuhkan jangka waktu yang panjang, bisa 20 hingga 30 tahun.

"Oleh karena itu, kemampuan sektor keuangan di Indonesia untuk mampu memupuk dana jangka panjang menjadi sangat penting. Namun, sektor keuangan Indonesia saat ini masih didominasi oleh sektor perbankan, 80% aset dari sektor keuangan adalah dari sektor perbankan. Itu mayoritas dalam bentuk deposito atau simpanan yang berjangka pendek dibawah 5 tahun," ucapnya.

Sementara itu, sektor yang memiliki kemampuan mengakumulasi dana jangka panjang seperti industri asuransi dan dana pensiun, kontribusi atau porsinya di dalam sektor keuangan Indonesia hanya 14%.

Ini menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi Indonesia, terutama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang mencakup Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk terus mampu membangun sektor keuangan yang mampu mengumpulkan dan memobilisasi dana jangka panjang yang kuat dan kredibel.

"Tentu ini merupakan PR yang sangat tidak mudah, masyarakat masih perlu untuk dibangun tidak hanya literasinya, tetapi juga kepercayaan dan confidence-nya terhadap sistem keuangan, instrumen keuangan, dan lembaga-lembaga keuangan. Peranan dari Kemenkeu dalam mengelola fiskal juga terus memperkenalkan instrumen-instrumen keuangan dalam hal ini yang mampu untuk kemudian dilihat oleh para investor di Indonesia, terutama investor retail," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini