Share

Mengenal Yang Huiyan, Wanita Terkaya Asia yang Hartanya Hilang Setengah

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Sabtu 13 Agustus 2022 22:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 12 455 2646398 mengenal-yang-huiyan-wanita-terkaya-asia-yang-hartanya-hilang-setengah-RI0KBBuyff.png Wanita Terkaya di Asia Yang Huiyan. (Foto: Okezone.com/Forbes)

JAKARTA - Perempuan terkaya di Asia, Yang Huiyan kehilangan hartanya hingga 50% karena krisis bisnis properti di China. Kekayaan Yang turun hampir USD24 miliar menjadi USD11 miliar atau sekitar Rp162 triliun tahun ini.

Lantas siapa sebenarnya Yang Huiyan dan bagaimana dia bisa menyandang predikat sebagai perempuan terkaya di Asia?

Yang Huiyan lahir pada 1981 di Shuntak, sebuah distrik di Kota Foshan, Provinsi Guangdong. Dia adalah putri salah satu pria terkaya di China, Yang Guoqiang.

Baca Juga: Harta Wanita Terkaya di Asia, Yang Huiyan Lenyap 50% dalam Setahun

Saat remaja, Yang Huiyan dikirim ke Amerika Serikat untuk mengenyam pendidikan tinggi. Dia lulus pada 2003 dengan gelar sarjana dari Ohio State University.

Sepulangnya di China, Yang pada 2007 menerima mayoritas saham Country Garden Holdings dari ayahnya.

Country Garden Holdings, yang didirikan pada 1992 di Guangzhou, adalah pengembang real estat terbesar di China diukur dari penjualan. Perusahaan itu meraih sekitar USD1,6 miliar setelah penawaran saham perdana (IPO) di Hong Kong—jumlah yang juga digalang Google saat meluncurkan IPO di AS pada 2004.

Baca Juga: 5 Sumber Kekayaan Gisella Anastasia dari Bisnis Kometik hingga Kuliner

Besarnya kekayaan Yang Huiyan dari Country Garden Holdings membuat perempuan itu menjadi pusat perhatian baik di dalam China maupun di mancanegara, walau dia jarang muncul di hadapan publik dan menjaga keprivasiannya.

Salah satu sorotan terhadap Yang Huiyan adalah ketika bocoran dokumen hukum pada 2018 menunjukkan bahwa dia mendapat kewarganegaraan Siprus meski China tidak mengakui dwikewarganegaraan.

Para pengamat pasar dan bisnis di China kerap menggambarkan Yang Huiyan sebagai perempuan kreatif yang jeli melihat peluang meraup profit. Demikian dikutip dari BBC INdonesia, Sabtu (13/8/2022). 

Pada Juni tahun lalu, International Hospitality Institute menempatkan dia dalam daftar orang-orang berpengaruh di dalam industri hospitality dunia.

Meski demikian, bisnis yang dijalankan Yang Huiyan mulai menunjukkan tanda-tanda melemah.

Sejak 2020, situasi pasar real estat di China mulai kewalahan, bukan hanya akibat pandemi Covid-19 melainkan juga aparat China berupaya menghentikan utang berlebih di sektor real estat.

Akibatnya, perusahaan-perusahaan kontruksi besar kesulitan membayar utang dan terpaksa merundingkan kembali pinjaman mereka dengan para kreditur.

Krisis memburuk ketika Evergrande, perusahaan real estat yang paling banyak berutang di China, gagal membayar utang mereka pada akhir 2021 setelah berbulan-bulan mengalami masalah likuiditas.

Keadaan tersebut terus bergulir. Tahun ini, sejumlah pengembang besar lainnya, termasuk Kaisa dan Shimao Group, bernegosiasi dengan para kreditur.

Krisis tak berhenti di situ. Beberapa pekan terakhir ribuan nasabah melakukan aksi mogok membayar cicilan karena para perusahaan real estat tidak kunjung melanjutkan proyek konstruksi.

Semuanya ini membuat Country Garden, yang berhasil bertahan pada masa-masa awal pandemi, menghadapi masalah likuiditas pula hingga terpaksa menjual saham dengan harga diskon hampir 13% untuk menggalang dana.

Keadaannya memang tidak menggembirakan bagi Yang Huiyan dan industri properti secara keseluruhan di China.

Dalam laporannya akhir Juli lalu, S&P selaku lembaga pemeringkat kredit memperkirakan penjualan properti di China bisa merosot hingga sepertiga tahun ini akibat aksi mogok membayar cicilan.

Sementara itu, Capital Economics, perusahaan riset ekonomi indepenen yang berbasis di London, mengestimasi bahwa “tanpa penjualan, makin banyak pengembang yang kolaps dan menimbulkan ancaman keuangan serta ekonomi“ kepada China.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini