Share

Bisnis Properti di China Alami Krisis, Apa yang Terjadi?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 12 Agustus 2022 08:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 12 470 2646409 bisnis-properti-di-china-alami-krisis-apa-yang-terjadi-GLGPBCquGi.png Bisnis Properti di China Krisis. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA - Bisnis properti di China alami krisis. Demo dilakukan oleh orang-orang yang telah membeli apartemen tapi pembangunannya tak kunjung tuntas.

"Pembangunan berhenti, cicilan berhenti. Lanjutkan pembangunan dan pembayaran pun akan berlanjut!" seruan yang disampaikan para pendemo, dikutip dari BBC Indonesia, Jumat (12/8/2022).

Pasangan muda yang pindah ke Zhengzhou mengatakan setelah membayar uang muka pada tahun lalu, pengembang properti mengundurkan diri sehingga pembangunan pun terhenti.

"Saya telah membayangkan berkali-kali kegembiraan tinggal di rumah baru, tapi sekarang semuanya terasa konyol," kata perempuan yang tidak ingin disebutkan namanya itu.

Seorang wanita berusia 20-an tahun yang juga membeli rumah di Zhengzhou mengatakan bahwa siap untuk berhenti membayar cicilan rumahnya.

"Ketika proyek dilanjutkan sepenuhnya, saya akan lanjut membayar," ucapnya.

Baca Juga: 7 Fakta Pangeran Arab Saudi Bangun Gedung Pencakar Langit Berlapis Cermin, Investasi Capai Rp7.475 Triliun

Sebenarnya banyak dari orang-orang ini mampu membayar cicilan, tapi memilih menangguhkan pembayaran. Kondisi ini berbeda dengan krisis properti Amerika Serikat pada 2007, yang dipicu gagal bayar oleh para peminjam berisiko tinggi.

Menurut perkiraan yang bersumber dari situs Github, mereka telah membeli rumah di sekitar 320 proyek di China. Namun tidak jelas berapa banyak orang yang benar-benar berhenti membayar cicilan properti.

Menurut perkiraan S&P Global, pinjaman yang diboikot berjumlah USD145 miliar atau sekitar Rp2.156 triliun). Lembaga lain mengatakan angka itu bisa lebih tinggi.

Baca Juga: Arab Saudi Segera Miliki Gedung Pecakar Langit Sepanjang 170 Km, Berlapiskan Cermin

Aksi para pembeli properti ini telah mendapat perhatian pihak berwenang, di tengah pasar properti yang berada di bawah tekanan ekonomi yang melambat serta krisis uang tunai.

Lebih lagi, hal itu menandakan kurangnya kepercayaan terhadap salah satu pilar utama perekonomian di China, yang merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia.

"Boikot hipotek, didorong oleh sentimen yang memburuk terhadap properti, adalah ancaman yang sangat serius terhadap posisi keuangan sektor ini," kata lembaga riset Oxford Economics.

Sebenarnya sejak 2020, situasi pasar real estat di China mulai kewalahan, bukan hanya akibat pandemi Covid-19 melainkan juga aparat China berupaya menghentikan utang berlebih di sektor real estat.

Akibatnya, perusahaan-perusahaan kontruksi besar kesulitan membayar utang dan terpaksa merundingkan kembali pinjaman mereka dengan para kreditur.

Krisis memburuk ketika Evergrande, perusahaan real estat yang paling banyak berutang di China, gagal membayar utang mereka pada akhir 2021 setelah berbulan-bulan mengalami masalah likuiditas.

Keadaan tersebut terus bergulir. Tahun ini, sejumlah pengembang besar lainnya, termasuk Kaisa dan Shimao Group, bernegosiasi dengan para kreditur.

Krisis tak berhenti di situ. Beberapa pekan terakhir ribuan nasabah melakukan aksi mogok membayar cicilan karena para perusahaan real estat tidak kunjung melanjutkan proyek konstruksi.

Semuanya ini membuat Country Garden, yang berhasil bertahan pada masa-masa awal pandemi, menghadapi masalah likuiditas pula hingga terpaksa menjual saham dengan harga diskon hampir 13% untuk menggalang dana.

Keadaannya memang tidak menggembirakan bagi Yang Huiyan dan industri properti secara keseluruhan di China.

Dalam laporannya akhir Juli lalu, S&P selaku lembaga pemeringkat kredit memperkirakan penjualan properti di China bisa merosot hingga sepertiga tahun ini akibat aksi mogok membayar cicilan.

Sementara itu, Capital Economics, perusahaan riset ekonomi indepenen yang berbasis di London, mengestimasi bahwa “tanpa penjualan, makin banyak pengembang yang kolaps dan menimbulkan ancaman keuangan serta ekonomi“ kepada China.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini