Share

Tenang! Risiko Resesi Indonesia Hanya 3%, Sangat Jauh Dibandingkan Amerika-Eropa

Feby Novalius, Okezone · Selasa 16 Agustus 2022 11:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 16 320 2648677 tenang-risiko-resesi-indonesia-hanya-3-sangat-jauh-dibandingkan-amerika-eropa-wfYFR9Oaw8.jfif Risiko Resesi Indonesia Kecil. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - MPR RI merasa tenang karena tingkat risiko resesi Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan Amerika dan Eropa. Hal ini, kata Bamsoet berkat kesigapan pemerintah dalam mengantisipasi ancaman krisis.

Ketua MPR Bambang Soesatyo mengungkapkan bahwa data IMF dan Bank Dunia, perekonomian 66 negara diprediksi akan bangkrut dan ambruk. Pelambatan dan kontraksi pertumbuhan ekonomi global, semakin diperburuk oleh tingginya kenaikan inflasi.

Berkat kesigapan Pemerintah dalam menyikapi ancaman krisis, dari hasil survey Bloomberg, Indonesia dinilai sebagai negara dengan resiko resesi yang kecil, hanya 3%.

Baca Juga: Ketua MPR: Pemindahan IKN Tidak Boleh Terhenti karena Pergantian Pemimpin

"Sangat jauh jika dibandingkan dengan rata-rata negara Amerika dan Eropa, yang mencapai 40 hingga 55% ataupun negara Asia Pasifik pada rentang antara 20 hingga 25%," ujar Bamsoet, dalam Sidang Tahunan MPR 2022, Selasa (16/8/2022).

Meski demikian, Bamsoet mengingatkan soal ancaman krisis ekonomi dunia sudah di depan mata. Peringatan itu pun sudah disampaikan Presiden Jokowi bahwa kondisi global saat ini semakin tidak menentu.

Bamsoet mengatakan semua negara sedang berupaya keras memulihkan ekonominya, pasca-pandemi Covid-19. Namun, fase ini terganggu oleh dinamika global, seperti konflik RusiaUkraina, perang dagang dan teknologi Amerika SerikatTiongkok, ketegangan baru di Selat Taiwan, serta disrupsi rantai pasok yang berimplikasi pada fluktuasi harga komoditas pangan dan energi.

Baca Juga: Bamsoet: Presiden Jokowi Ingatkan Ancaman Krisis Global di Depan Mata

"Kenegarawanan Presiden Jokowi kembali ditunjukkan, melalui pelaksanaan salah satu tujuan pembentukan pemerintah negara Indonesia, yaitu, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Misi perdamaian Presiden, dengan mengunjungi Ukraina dan Rusia beberapa waktu yang lalu, patut kita berikan apresiasi yang setinggi-tingginya," ujarnya.

Perang dengan alasan apa pun, selalu membawa petaka, kehancuran, dan kesengsaraan. Menghancurkan peradaban, yang telah dibangun berabad-abad lamanya. Membawa krisis kemanusiaan, krisis ekonomi, krisis pangan, dan krisis energi.

Baca Juga: Presiden Jokowi Sebut Sistem Penyaluran BLT BBM yang Dijalankan Sudah Bagus

Menurut Badan Pengungsi PBB, UNHCR, dalam kurun waktu kurang dari dua bulan sejak pasukan Rusia memulai perang di Ukraina, sebanyak 5 juta warga Ukraina telah meninggalkan negara mereka. Warga Ukraina kini merupakan kelompok pengungsi kedua terbesar di dunia, setelah pengungsi Suriah yang jumlahnya mencapai 6,8 juta.

Perang antara Rusia dan Ukraina, juga telah menyebabkan sekitar 7,1 juta warga Ukraina terpaksa kehilangan tempat tinggal mereka di negaranya. Jumlah tersebut merupakan jumlah populasi terbesar di dunia, yang harus kehilangan tempat tinggal mereka sendiri akibat konflik yang melanda. Perang di Ukraina telah memicu krisis pengungsi dan krisis kemanusiaan yang tumbuh paling cepat.

"Presiden Jokowi mengingatkan, bahwa ancaman krisis global kini ada di depan mata. Saat ini, sekitar 320 juta penduduk dunia berada dalam kondisi kelaparan akut," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini