Share

Menko Airlangga Pastikan Transformasi Ekonomi yang Inklusif Jadi Fokus Utama pada 2023

Tim Okezone, Okezone · Selasa 16 Agustus 2022 21:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 16 320 2649200 menko-airlangga-pastikan-transformasi-ekonomi-yang-inklusif-jadi-fokus-utama-pada-2023-ll19LXA2Hw.jpg Menko Airlangga Hartarto. (Foto: Kemenko)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan kalau saat ini dunia masih menghadapi tekanan pandemi dan konflik Rusia - Ukraina.

Ekonomi global diproyeksikan melambat, termasuk AS dan China.

Ketidakseimbangan supply dan demand memicu kenaikan harga Pangan dan Energi serta mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi. Kombinasi ini menimbulkan risiko stagflasi dan berpotensi mendorong ke jurang resesi global.

 BACA JUGA:Dapat Jatah APBN 2023, Bappenas dan PUPR Siap Lanjutkan Pembangunan IKN

Di tengah situasi tersebut, ekonomi Indonesia masih kokoh dengan pertumbuhan pada Q2-2022 sebesar 5,44% (YoY), atau tumbuh di atas 5% selama tiga Kuartal berturut-turut.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat impresif, dibandingkan sejumlah negara yang mengalami perlambatan. Konsumsi RT tumbuh tinggi terutama ditopang pelonggaran mobilitas masyarakat.

Ekspor juga tumbuh tinggi ditopang kenaikan harga komoditas global. Sektor utama juga masih tumbuh positif, seperti Industri Pengolahan, Pertambangan, Pertanian, dan Perdagangan.

Pencapaian pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari keberhasilan Indonesia dalam mengendalikan Covid-19.

Indonesia termasuk 5 besar dunia, negara yang melakukan vaksinasi Covid-19, total kumulatif vaksinasi lebih dari 430 juta dosis.

"Ke depan, prospek pertumbuhan diperkirakan masih akan berlanjut, tercermin dari kinerja positif berbagai leading indicator ekonomi," ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Selasa (16/8/2022).

Indeks Kepercayaan Konsumen di level Optimis (Juli’22 = 123,2) dan Penjualan Ritel terus tumbuh (Juli’22= 8,7%). Prospek permintaan yang terus meningkat, menjadi insentif bagi Industri untuk meningkatkan produksi, tercermin dari Purchasing 2 Manager Index (PMI) yang terus berada di level Ekspansi (Juli’22 = 51,3).

Indikator sektor eksternal Indonesia juga masih resilien. Transaksi berjalan dan neraca perdagangan masih surplus selama 27 bulan berturut-turut.

Bahkan surplus neraca perdagangan sepanjang Januari-Juli 2022 mencapai USD29,2 miliar, hampir double digit dibanding periode sama tahun lalu sebesar USD15,9 miliar.

Rasio ULN terhadap PDB dan cadangan devisa juga masih dalam level aman.

Namun kenaikan inflasi global yang meningkat dan bertransmisi ke ekonomi domestik perlu terus kita waspadai.

"Hingga awal paruh kedua tahun ini, realisasi inflasi pada Juli 2022 tercatat sebesar 4,94% (YoY), sebagaimana disampaikan oleh Bapak Presiden, angka ini jauh dibawah rata rata inflasi ASEAN yang berada di sekitar 7% dan jauh dibawah inflasi negara negara maju yg berada di sekitar 9%. Implementasi berbagai program pengendalian inflasi berperan penting dalam menjaga daya beli dan stabilisasi harga dalam negeri," jelasnya.

Kualitas pertumbuhan ekonomi juga diiringi tingkat kesejahteraan yang membaik.

Tingkat kemiskinan terus menurun sejak September 2020 dari 10,19% menjadi 9,54% pada Maret 2022.

Demikian pula tingkat pengangguran menurun dari 7,1% menjadi 5,8% .

Dia juga mengatakan bahwa nNeraca beras Indonesia masih mencatatkan surplus.

Pada periode Januari-September 2022, produksi beras diperkirakan mencapai 26,45 juta ton dan konsumsi beras mencapai 22,72 juta ton, sehingga terdapat surpus sebesar 3,73 ton.

Kemudian, strategi dan kebijakan utama untuk mencapai target tersebut antara lain:

a. Pelonggaran Mobilitas Masyarakat Sejalan dengan Situasi

Covid-19

b. Kebijakan Fiskal sebagai Shock Absorber

c. Stabilisasi Harga

d. Peningkatan Kualitas SDM melalui Program Kartu Pra Kerja

e. Mendorong Pengembangan UMKM (UMKM Naik Kelas)

f. Melanjutkan Reformasi Struktural

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini