Share

Dolar AS Meroket Usai Pejabat The Fed Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga

Antara, Jurnalis · Jum'at 19 Agustus 2022 08:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 19 278 2650406 dolar-as-meroket-usai-pejabat-the-fed-beri-sinyal-kenaikan-suku-bunga-45v5qMKjhc.png Pejabat The Fed Beri Isyarat Kenaikan Suku Bunga Diperlukan. (Foto: Okezone.com/Reuters)

NEW YORK - Indeks dolar AS menguat ke level tertinggi dalam satu bulan di akhir perdagangan Kamis. Dolar mendapat sentimen positif setelah pejabat Federal Reserve berbicara tentang perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Menurut Pejabat The Fed tersebut, Bank Sentral AS perlu terus menaikkan biaya pinjaman untuk mengendalikan inflasi yang tinggi. Bahkan ketika memperdebatkan seberapa cepat dan seberapa tinggi untuk mengangkatkan suku bunga.

Baca Juga: Dolar Menguat, Investor Soroti Data Penjualan Ritel AS

Presiden Fed St Louis James Bullard mengaku condong ke arah mendukung kenaikan suku bunga 75 basis poin untuk ketiga berturut-turut pada September. Kemudian Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan kenaikan suku bunga sebesar 50 atau 75 basis poin bulan depan akan menjadi cara yang masuk akal untuk membuat biaya pinjaman jangka pendek menjadi sedikit di atas 3,0% pada akhir tahun ini, dalam perjalanan ke sedikit lebih tinggi pada 2023.

"Retorika The Fed telah sangat teguh dari hampir semua orang kita harus menaikkan suku bunga, kita harus menaikkan suku bunga, suku bunga akan lebih tinggi," kata Analis Senior FXStreet.com, Joseph Trevisani, dikutip dari Antara, Jumat (19/8/2022).

Baca Juga: Dolar Loyo setelah Inflasi AS Menurun di Juli 2022

Dolar memangkas kenaikan setelah risalah pertemuan Fed Juli menunjukkan pejabat bank sentral khawatir mereka dapat menaikkan suku terlalu jauh dalam komitmen mereka untuk mengendalikan inflasi, yang ditafsirkan sebagai sedikit dovish.

Risalah juga menandai dimensi penting dari perdebatan The Fed dalam beberapa bulan mendatang: kapan harus memperlambat kenaikan suku bunga.

Tetapi para analis mengatakan, salah untuk fokus pada bagian-bagian dari risalah ini daripada pandangan utama bahwa suku bunga perlu terus menuju lebih tinggi.

"Kecuali untuk bagian tentang laju kenaikan suku bunga yang lebih lambat, sisa risalah sangat hawkish," Kepala Strategi Mata Uang Global Brown Brothers Harriman, Win Thin.

Indeks dolar terakhir naik 0,71% pada 107,39, setelah mencapai 107,57, tertinggi sejak 19 Juli.

Sedangkan Euro mencapai 1,0078 dolar, terlemah sejak 18 Juli. Dolar naik menjadi 135,90 terhadap yen, level terlemah untuk mata uang Jepang sejak 28 Juli.

Sterling tergelincir sejauh 1,1920 dolar terendah sejak 22 Juli.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini