Share

Harga BBM Akan Naik Minggu Depan, Menko Luhut: Tak Mungkin Lagi Dipertahankan

Antara, Jurnalis · Jum'at 19 Agustus 2022 15:46 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 19 320 2650773 harga-bbm-akan-naik-minggu-depan-menko-luhut-tak-mungkin-lagi-dipertahankan-vOAGbwZGP3.jpg Harga BBM Bakal Naik (Foto: Okezone)

JAKARTA - Harga BBM akan naik pada minggu depan. Kenaikan harga BBM akan diumumkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Langkah ini karena beban APBN terlalu berat menanggung subsidi.

Tercatat, pemerintah mengguyur subsidi Rp502 triliun demi menahan harga BBM jenis Pertamax hingga Pertalite agar inflasi terjaga. Namun di sisi lain, harga BBM di Indonesia sudah terlalu murah. Jika terus dipaksakan, beban APBN semakin berat.

"Jadi Presiden sudah mengindikasikan tidak mungkin kita pertahankan terus demikian, karena kita harga BBM termurah se-kawasan ini. Kita jauh lebih murah dari yang lain dan itu beban terlalu besar kepada APBN kita," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam acara Kuliah Umum di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan yang dipantau secara daring dari Jakarta, Jumat (19/8/2022).

BACA JUGA:Menko Luhut Beri Sinyal Presiden Jokowi Umumkan Kenaikan Harga BBM Minggu Depan 

Luhut mengatakan, kemungkinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan mengumumkan kenaikan harga BBM pada minggu depan.

Menurut Luhut, Presiden Jokowi telah mengindikasikan bahwa pemerintah tidak bisa terus mempertahankan harga solar dan pertalite di harga saat ini.

"Itu modelling ekonominya saya kira sudah dibuat, nanti mungkin minggu depan Presiden akan mengumumkan mengenai apa, bagaimana, mengenai kenaikan harga ini," katanya.

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Sehat 2025, Lifebuoy dan Halodoc Berkolaborasi Berikan Akses Layanan Kesehatan Gratis

Luhut mengakui Indonesia sudah cukup baik menjaga laju inflasi di level yang terkendali saat ini. Inflasi Indonesia pada Juli 2022 tercatat sebesar 4,94% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Inflasi Indonesia masih lebih rendah dari sejumlah negara lain seperti Amerika Serikat yang mencapai 8,5%, Uni Eropa sebesar 8,9%, bahkan Turki sudah mencapai 79,6%. Namun, capaian inflasi ini melebihi dari batas atas sasaran 3% plus minus 1%.

Luhut pun telah meminta timnya untuk membuat modelling kenaikan inflasi. Menurut dia, meski saat ini masih tergolong terkendali, laju inflasi akan sangat bergantung pada kenaikan solar dan pertalite yang masih disubsidi pemerintah.

"Karena bagaimanapun, tidak bisa kita pertahankan demikian. Jadi tadi, mengurangi pressure (tekanan) ke kita karena harga crude oil (minyak mentah) naik, itu kita harus siap-siap," pintanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini