Share

Alasan Mengapa Harga Rumah di Jogja Mahal Padahal UMR dan Biaya Hidupnya Cukup Murah

Rina Anggraeni, Okezone · Kamis 25 Agustus 2022 19:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 25 470 2654605 alasan-mengapa-harga-rumah-di-jogja-mahal-padahal-umr-dan-biaya-hidupnya-cukup-murah-gRVaQDdzxF.jpeg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA- Alasan mengapa harga rumah di jogja mahal padahal UMR dan biaya hidupnya cukup murah menarik untuk diulas. Harga properti di Yogyakarta terus melambung khususnya kawasan kota dan seputaran ringroad yang menjadi favorit warga.

Dalam setahun, harga tanah dan bangunan cenderung naik rata-rata 20%. Karena ada kecenderungan selalu mengalami kenaikan, maka para pengembang mulai bergeser dan mengalihkan lokasi pendirian perumahan mereka di daerah pinggiran.

Kawasan Pajangan, Prambanan, Piyungan, Godean dan Jalan Kaliurang serta sekitarnya mulai diincar oleh pengembang. Pertimbangannya, agar harga bisa terjangkau oleh masyarakat. Harga perumahan mulai terkerek naik seperti di kawasan Kasongan dengan tipe 45 - tipe 54 sudah di kisaran harga Rp500 juta hingga Rp750 juta.

Di kawasan Jalan Kaliurang rumah tipe 76 sudah di atas Rp600 juta. Dan di Jalan Wonosari seputaran Piyungan sudah mencapai Rp350 juta ke atas. Adapun, investasi properti diperkirakan akan kembali dalam waktu 5 tahun. Selain memiliki potensi dana kembali dalam waktu singkat, DIY juga memiliki kelebihan tersendiri.

Berikut alasan mengapa harga rumah di jogja mahal padahal UMR dan biaya hidupnya cukup murah:

1. Faktor Wilayah

Jogja memiliki banyak tempat wisata kuliner, alam, dan budaya. Tak hanya itu, kota ini juga dilengkapi dengan infrastruktur, bangunan komersial, institusi pendidikan, dan transportasi yang memudahkan penghuninya. Hal ini membuat wilayah ini bakal mendapatkan harga rumah yang tinggi.

2. Banyak Tipe Rumah

Ketersediaan stok tidak bersifat elastis atau dinamis, karena untuk mendapatkan izin perencanaan, IMB, dan membangun rumah merupakan proses yang memakan waktu cukup lama.

Hal itu membuat ketersediaannya terbatas, sedangkan permintaannya meningkat dan membuat harga properti jadi naik.

Sebagai informasi, Ketua Bidang Organisasi dan Humas Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Yogyakarta, Ilham Nur Muhammad mengakui harga tanah di wilayah DIY cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Rata-rata per tahun terjadi kenaikan sekitar 20%. Hal ini selain menjadi kelemahan juga kelebihan. โ€œKarena harga tanah naik, maka pengembangan rumah murah nanti hanya di spotspot tertentu,โ€ tambahnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini