Share

Imbas Harga BBM Naik, 40% Masyarakat Putuskan Tunda Beli Rumah

Zuhirna Wulan Dilla, Okezone · Sabtu 17 September 2022 13:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 17 470 2669424 imbas-harga-bbm-naik-40-masyarakat-putuskan-tunda-beli-rumah-NbMWGvrTUL.jpg Ilustrasi rumah. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Sektor properti ikut terkena imbas setelah harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik pada 3 September 2022 lalu.

Menurut Kementerian Keuangan, kenaikan harga BBM akan menyumbang inflasi sebanyak 1,9% ke inflasi tahun ini, sehingga diperkirakan inflasi di akhir 2022 akan berada di kisaran 6,6% – 6,8%, meningkat dari target inflasi 2022 pemerintah sebelumnya sebesar 4% – 4,8%.

Country Manager Rumah.com Marine Novita mengatakan pada survey di semester II-2022, indeks sentimen properti menjadi 59 poin naik 2 poin dari semester sebelumnya.

 BACA JUGA:Harga BBM Naik, PNS Diminta ke Kantor Pakai Ojol

"Meskipun demikian persepsi konsumen terhadap upaya Pemerintah untuk membuat perumahan terjangkau justru menurun dari sebelumnya 56 persen responden survei menjadi 53 persen. Hal ini bisa dilihat bahwa kebijakan Pemerintah dirasakan konsumen masih kurang kondusif apalagi bagi kelas menengah yang tidak terjangkau fasilitas subsidi namun penghasilannya masih pas-pasan untuk mencicil rumah non-subsidi," ujarnya melalui keterangan yang diterima pada Sabtu (17/9/2022).

Survei berkala dilakukan dua kali dalam setahun oleh Rumah.com sebagai portal properti terdepan di Indonesia bekerjasama dengan lembaga riset Intuit Research, Singapura untuk mengetahui dinamika pasar properti tanah air.

Survei kali ini berdasarkan 1000 responden dari seluruh Indonesia yang berlangsung pada bulan Juni hingga Juli 2022.

Persepsi konsumen terhadap upaya pemerintah yang memadai untuk membuat perumahan terjangkau mengalami penurunan sebagaimana dinyatakan oleh 16% responden survei saja yang menganggap bahwa langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi situasi saat ini menguntungkan konsumen properti.

Angka ini merupakan penurunan cukup drastis dari 22% pada semester sebelumnya.

Sementara kenaikan indeks sentimen properti menjadi 59 poin didukung oleh kepuasan konsumen terhadap beberapa kondisi dan yang utama pada semester ini adalah tersedianya pilihan pembiayaan yang baik tersedia.

Hal ini seperti dinyatakan oleh 34% responden survei yang merupakan kenaikan dari 28% pada semester sebelumnya.

Marine menuturkan hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas responden berpikir bahwa tingkat inflasi, tingkat suku bunga dan harga properti akan naik di tahun depan.

Adanya kenaikan tingkat inflasi maupun tingkat suku bunga di tahun depan masing-masing dinyatakan oleh 70% responden survei sementara adanya kenaikan harga rumah dinyatakan oleh 80% responden.

“Selain itu hasil survei juga memperlihatkan bahwa jika terjadi kenaikan tingkat suku bunga, 2 dari 5 responden atau 40% menyatakan akan menunda pembelian properti mereka, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Proporsi responden yang setara menunjukkan kemungkinan tidak akan terpengaruh oleh kenaikan tingkat suku bunga,” jelasnya.

Apalagi jika terjadi kenaikan tingkat inflasi, 38 persen responden menyatakan akan menunda pembelian properti mereka, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Serta 42% responden menyatakan tidak akan terpengaruh oleh kenaikan tingkat inflasi.

Dia menambahkan bahwa adanya berbagai kebijakan dan stimulus Pemerintah untuk mendorong kepemilikan rumah di Indonesia ternyata masih kurang dirasakan manfaatnya oleh para konsumen.

Hal ini sebagaimana hasil survei dimana hanya 1 dari 6 responden atau 17 persen yang menyatakan telah mendapatkan manfaat dari skema subsidi perumahan dari Pemerintah.

“Sementara 47% responden menyatakan belum pernah merasakan manfaat dari skema subsidi Pemerintah dan tidak mengajukan permohonan untuk mendapatkan skema subsidi tersebut. Selain itu 14 persen responden menyatakan tidak mengetahui sama sekali tentang adanya skema subsidi dari Pemerintah,” pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini