Share

Menteri ESDM Ungkap Alasan Pasokan Listrik RI Surplus

Rizky Fauzan, MNC Portal · Kamis 22 September 2022 18:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 22 320 2673064 menteri-esdm-ungkap-alasan-pasokan-listrik-ri-surplus-ihSIFfZCND.jfif PLN. (Foto: PLN)

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan bahwa kondisi kelebihan pasokan daya listrik PT PLN (Persero) masih akan terus terjadi.

Dia membeberkan surplus listrik PLN masih akan terjadi dalam jumlah besar seiring dengan masih berlanjutnya mega proyek penambahan kapasitas listrik di dalam negeri.

"Cukup banyak ya karena masih banyak pembangkit baru yang masuk program dulu yang dalam konstruksi akan selesai, ini akan jadi tambahan," beber Arifin di Gedung DPR, Kamis (22/9/2022).

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM per April 2021, penyelesaian pembangkit telah mencapai 10.069 megawatt (MW) atau telaheningkat 107 MW dibandingkan dengan akhir 2022 sebesar 9.931 MW.

 BACA JUGA:Indonesia Surplus Pasokan Listrik 6 Gigawatt

Pada periode tersebut tercatat sebanyak 418 unit PLTU sudah sudah berkontrak atau telah meneken perjanjian jual beli listrik (PPA).

Sebanyak 218 unit PLTU dengan kapasitas 10.069 MW atau setara dengan 28 persen telah beroperasi, 91 unit dengan kapasitas 17.964 MW atau setara dengan 50 persen telah berkontrak dan sedang memasuki tahap konstruksi, sedangkan 43 unit dengan kapasitas 6.228 MW atau setara dengan 18 persen telah berkontrak namun belum konstruksi.

Sementara itu, sebanyak 54 unit dengan kapasitas 1.563 MW atau 4,4 persen masih belum berkontrak.

Adapun, perinciannya adalah 29 unit PLTU berkapasitas 724 MW masih dalam tahap perencanaan, sedangkan 25 unit berkapasitas 839 MW masih dalam tahap pengadaan. Dalam perkembangan terbaru, jumlah PLTU yang termasuk dalam program 35 GW yang beroperasi hingga kuartal II/2022 telah mencapai 39 persen.

Sebagaimana diketahui, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah mengatakan program pembangunan pembangkit listrik 35 GigaWatt (GW) yang dicanangkan pemerintah telah membuat PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengalami kelebihan listrik (oversupply) hingga 6 gigawatt (GW).

"Bisa dibayangkan kalau 1 GW itu karena memang take or pay, harus bayar 1 GW Rp 3 triliun. Bermanis-manis juga bayar Rp 3 triliun, senyum Rp 3 triliun, merengut Rp 3 triliun, itu tidak bisa diapa-apain wajib bayar saja Rp 3 triliun," kata Said Abdullah.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini