Share

Biaya Keberangkatan Pekerja ke Inggris Capai Rp70 Juta, Kemnaker Bilang Begini

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 23 September 2022 09:36 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 23 320 2673307 biaya-keberangkatan-pekerja-ke-inggris-capai-rp70-juta-kemnaker-bilang-begini-4WhVLTbceX.png Biaya Keberangkatan Pekerja Migran Dipertanyakan. (Foto; Okezone.com/Freepik)

JAKARTA - Mahalnya biaya keberangkatan para pekerja Indonesia ke luar negeri seperti Inggris menjadi pertanyaan besar dan harus diselidiki. Sebab satu orang pekerja harus membayar ke agen penyalur sebesar Rp70 juta-Rp100 juta.

Para pekerja tersebut direkrut oleh AG Recruitment, salah satu dari empat agen resmi di Inggris, melalui Direktur Pengelola Doug Amesz, yang berada selama enam minggu di Indonesia untuk merekrut secara langsung.

Namun keberangkatan di Indonesia diatur PT Al Zubara Manpower Indonesia (PT AMI), perusahaan penempatan pekerja migran.

Baca Juga: Komitmen Kerja Orang Indonesia Diakui Inggris

"Dari sisi regulasi di Indonesia, penempatan harus melalui perusahaan (penempatan pekerja migran) P3MI, melalui agen resmi. Al Zubara, salah satu recruitment agency yang punya izin dari Kementerian Tenaga Kerja untuk merekrut. Yang melakukan recruitment adalah AG,” kata Didi Haryanto dari PT Al Zubara, dikutip dari BBC Indonesia, Jumat (23/9/2022).

PT AMI ini menetapkan biaya Rp45 juta, termasuk biaya pelatihan dan biaya perusahaan, selain visa dan penerbangan.

Terkait biaya penempatan, AG Recruitment menerangkan bahwa pihaknya sedang memusatkan penyelidikan atas biaya apa saja yang dibayar pekerja, selain visa dan biaya perjalanan.

Baca Juga: Mau Kerja di Inggris, Pekerja Indonesia Harus Bayar Rp70 Juta ke Agen Penyalur

AG Recruitment pun bekerja sama dengan pihak berwenang di Indonesia secara langsung untuk memahami masalah yang muncul dari perantara pihak ketiga karena kami prihatin dengan kesejahteraan para pekerja.

Direktur Jendral Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan, Suhartono, mengakui apa yang mereka sebut dugaan overcharging dengan kisaran yang harus dibayar pekerja antara Rp75 juta sampai Rp85 juta.

"Namun Kemenaker mengatakan biaya yang dibayar kepada PT AMI sebesar Rp45 juta sesuai dengan Perjanjian Penempatan (PP) yang telah ditandatangani oleh para PMI sebelum berangkat dengan PT AMI," katanya.

Suhartono menyatakan perjanjian penempatan telah diverifikasi oleh Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, BP2MI, dan diketahui oleh Dinas Tenaga Kerja Kabupaten asal para pekerja.

Namun besarnya biaya yang harus dibayar pekerja mengejutkan pihak perkebunan seperti Clock House Farm. Dari sekitar 800 pekerja yang berasal dari sembilan negara di perkebunan itu, pekerja Indonesia adalah yang terbanyak.

"Sebagai pihak perkebunan, kami Clock House Farm, menggunakan satu dari empat badan perekrutan yang diizinkan pemerintah untuk merekrut pekerja. Badan ini mencari pekerja dari seluruh dunia untuk bekerja di Inggris. Kami menggunakan salah satu dari badan itu dan mereka harus menunjukkan kepada kami, mereka melakukan langkah terbaik untuk menempatkan para pekerja di perkebunan di Inggris," kata Direktur Pengelola Clock House Farm, Oli Pascall.

"Karena kami baru sadar ada biaya yang dibayar sejumlah pekerja, kami bekerja sama secara erat dengan badan-badan perekrutan untuk memastikan kami mencari solusi atas masalah yang baru kami sadari ini," tambahnya.

Dia juga mengatakan pihaknya pihaknya memastikan jam kerja cukup bagi pekerja.

"Kami menyediakan setidaknya 35 jam kerja seminggu rata-rata dalam skema pekerja musiman," kata ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini