Share

5 Fakta Mengejutkan Ada 'Harta Karun' di Proyek MRT Fase 2

Clara Amelia, Okezone · Sabtu 24 September 2022 05:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 23 320 2673434 5-fakta-mengejutkan-ada-harta-karun-di-proyek-mrt-fase-2-vi6BSStyFh.jpg Penemuan Artefak di Proyek MRT. (Foto: Okezone.com/MPI)

JAKARTA – Fakta kelanjutan proyek MRT fase 2 yang ditemukan artefak kolonial Belanda akan diulas dalam artikel ini.

Proyek MRT fase 2 masih berlanjut hingga saat ini. Dalam pengerjaan MRT rute Glodok-Kota ditemukan artefak peninggalan zaman kolonial. Pada peninggalan tersebut ditemukan pecahan keramik, botol, dan bata zaman kolonial.

Dirangkum Okezone, Sabtu (24/9/2022), berikut fakta kelanjutan proyek MRT:

1. Proyek MRT Fase 2

Pengerjaan di MRT CP203, sudah mencapai 16,13%. Kemudian CP205 Bundaran HI-Kota.

Baca Juga: Mengintip Gaji dan Tunjangan di MRT Jakarta, Berapa Ya?

2. Target Penyelesaian Proyek MRT Fase 2

PT MRT Jakarta (Perseroda) menargetkan pembangunan dan operasional MRT Fase 2A segmen 1 Bundaran Hotel Indonesia-Harmoni selesai 2025. Sedangkan untuk Fase 2 segmen 2 Harmoni-Kota pada 2028.

"Untuk segmen satu, kami masih menargetkan penyelesaian pembangunan dan operasinya di tahun 2025. Sedangkan untuk yang sampai ke Kota itu sampai di tahun 2028," kata Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta (Perseroda) Silvia Halim dalam Forum Jurnalis MRT Jakarta di Wisma Nusantara, Jakarta Pusat.

Baca Juga: Intip Biaya Pembangunan MRT Jakarta Fase 1, Jangan Kaget Ya

3. Ditemukan Artefak Peninggalan Zaman Kolonial Belanda

Pantauan MNC Portal Indonesia di proyek MRT CP203 (Glodok-Kota), Selasa (20/9/2022), terlihat saluran air atau terakota peninggalan Belanda berupa pipa dilapisi batu bata tebal.

Arkeolog senior Prof. Junus Satrio Atmodjo mengatakan bahwa saluran air atau terakota yang dibangun kurang lebih abad ke-18 atau zaman Hindia Belanda di lokasi Proyek MRT CP203 Glodok-Kota memiliki panjang mencapai 400 meter.

4. Artefak Diserahkan ke Pemprov DKI Jakarta Melalui Dinas Kebudayaan (Disbud)

Penemuan benda bersejarah atau artefak itu akan diserahkan ke Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan (Disbud) yang memiliki kewenangan.

"Kalau artefak kita serahkan semua kepada DKI ownernya DKI (Disbud) bukan MRT itu kan projectnya MRT juga bagian dari DKI. Jadi kita harus kepada institusi yang berwenang siapa itu dinas kebudayaan," ujar Junus.

5. Sejarah Tempat Ditemukannya Artefak

Prof. Junus menyebut saat itu trem dibangun oleh Pemerintah Hindia-Belanda sebagai salah satu moda transportasi ke pusat ekonomi di kawasan Batavia yang saat ini Kota Tua.

Junus juga mengatakan, lintasan trem yang ditemukan merupakan dobel trek sehingga total panjang trem kurang lebih mencapai 800 meter.

"Jalur trem itu dulu menghubungkan Kota Tua (dulu Batavia) hingga ke Jalan Veteran. (Sekarang Kementerian Sekretaris Negara)," ujarnya.

Selain itu, Junus menambahkan lintasan trem di zaman Pemerintah Hindia-Belanda juga menjalar hingga ke Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Pembangunan trem di zaman Pemerintah Hindia-Belanda mengalami tiga kali evolusi. Pada 1869 trem masih menggunakan tenaga kuda. Kemudian pada 1881 berevolusi dengan menggunakan tendangan uap. Pada 1885, Pemerintah Hindia-Belanda membangun trem dengan menggunakan tenaga listrik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini